“Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Panenan pun tidak mengingkari musim.” -Mas Redjo
Salah musim itu bisa terjadi, karena salah satunya faktor perubahan cuaca. Bahkan, kadang hasil panenan itu tidak sesuai yang diharapkan, alias mengecewakan.
Berbeda dengan perjuangan hidup ini, yakni hukum tabur tuai. Orang yang menanam pasti memanen. Orang yang menabur perbuatan baik atau buruk pasti akan menuai hasilnya.
Nasihat Guru Agung nan bijaksana tentang hukum tabur tuai itu bagai buldozer yang membongkar hati nuraniku. Yang semula kering dan keras itu langsung jadi gembur dan subur untuk ditanami bibit tanaman yang baik.
Saya adalah petani kehidupan yang diingatkan oleh Guru Agung untuk menggarap ladang hati ini dengan baik, supaya panenan berlimpah (2 Korintus 9: 6).
Caranya adalah, saya harus berani berdamai dengan diri sendiri dan sesama. Saya harus mengubur dan melupakan pahit getirnya masa lalu untuk hidup baru yang lebih baik.
Dengan menerima kenyataan dan mengucap syukur atas kerahiman Tuhan, saya meninggalkan manusia lama untuk jadi manusia baru.
Karena diingatkan Tuhan, saya sadar diri untuk berbenah dan perbaiki diri guna menyongsong masa depan yang cerah dan sukses.
Karena perjuangan yang gigih, pantang menyerah, dan bertekun dalam doa itu tidak ada yang sia-sia. Bahkan dengan mengandalkan Tuhan, hasilnya luar biasa.
Karena perbuatan baik, amal kasih, dan mati raga yang dilakukan atas dasar iman itu akan berbuah semanis madu hutan.
Karena ikhlas hati, kita menikmati hidup damai sejahtera dan bahagia dalam kasih Tuhan.
Mas Redjo

