Oleh : Rm. Petrus Santoso SCJ
[ Red-Joss.com ] Jangan mengelak, karena banyak orang yang suka. Jangan ditutup-tutupi, karena banyak orang yang senang melakukannya. Juga jangan marah, karena itulah yang sering kita lakukan: pamer!
Saat berkata, bercerita, bergaya, dan saat sedang bersama, sikap pamer itu tidak bisa ditahan untuk kita pertontonkan. Tujuannya jelas agar dipuji. Rasanya, jika sudah dipuji, hati ini berbunga-bunga dan badan ini menjadi ringan seperti terbang.
Sesungguhnya, pamer itu bukan penyakit, melainkan area kebutuhan untuk suatu pengakuan diri. Ada kerinduan, bahwa ada pengakuan atas prestasi, kekayaan, kehebatan, dan hal spesial yang kita punyai. Tidak usah malu, akui saja, kita masih membutuhkan itu.
Yang penting, kita tidak โoverโ, sebab bisa terjadi, awalnya mau pamer, ee, malah dipermalukan. Usut punya usut, ternyata yang dipamerkan itu tidak berkenan bagi yang melihat, yang dekat, dan yang mengenalnya. Bisa jadi, hasil dari perbuatan yang tidak jujur.
Meskipun demikian, pamer itu tetap ada panggungnya sampai kapanpun juga. Jangan merasa ketinggalan, selalu ada kesempatan untuk pamer. Gratis!
Rm. Petrus Santoso SCJ

