Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Palu dapat
menghancurkan kaca, tetapi sekaligus palu pun
dapat membentuk baja.”
(Pepatah Kuno)
Antara: Palu, Kaca, dan Baja
Pernahkah di dalam perjuangan ini, Anda mendengar tuturan yang bermakna filosofis, sehubungan dengan sifat ‘kerapuhan kaca’ serta ‘kekokohan baja?’
Semisal…
- “Janganlah engkau bersikap laksana selembar kaca yang rapuh dan mudah remuk!”
- “Tempahlah dirimu senantiasa, agar engkau kelak dapat menjadi sekokoh baja.”
Ada pun kebenaran dan harapan dari balik kedua tuturan filosofis ini sudah dipahami dan bahkan sudah pula jadi impian serta dambaan dari para orangtua, guru, juga para anggota masyarakat kita.
(Dari berbagai Sumber)
Mental Kaca
Sungguh, bahwa jiwa dan kepribadian kita manusia, memang cenderung sangat rapuh laksana selembar kaca yang sangat mudah remuk.
Hal ini dapat dibuktikan di kala kita sedang dihadang permasalahan hidup. Ternyata, betapa mudah kita merasa kecewa, putus asa, stres berat, dan bahkan frustrasi yang berujung jadi remuk berantakan?
Dalam konteks ini, kita mamang sungguh laksana sekeping kaca. Mengapa? Bukankah karena kita sangat rentan. Sedikit saja terjadi benturan, maka segera remuklah kita.
Kini mengertilah kita, mengapa kepada kita sejak dini sudah didoktrin orangtua dan para guru agar kita memiliki kepribadian serta jati diri yang kokoh kuat laksana besi baja.
Mental Baja
Sungguh tidak jarang, kita mendengar dambaan dan harapan dari para orangtua serta para guru, agar kita kelak memiliki pribadi sekokoh baja.
Pribadi yang bermental kokoh laksana baja akan memandang realitas hidup ini dari balik harapan serta positive thinking. Mereka akan senantiasa ‘bersyukur’ sebagai kata kunci hidup yang jadi hiasan hidup.
Konklusi
Jika sepotong palu dapat meremukkan selembar kaca, tapi sekaligus mampu membentuk baja, maka bagaimanakah dengan Anda?
…
Kediri, 23 Februari 2025

