Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
…
Pahit hati adalah saudara kembar dari sakit hati.
Dalam arena hidup dan kehidupan ini, manusia senantiasa berhadapan dan bahkan mengalami peristiwa pahit hati.
Dari mana datangnya fenomena tidak mengenakkan hati ini, mengapa dia ada dan hadir, dari mana datangnya, dan apa faktor penyebabnya?
Dia, sang pahit hati itu memang selalu ada dan hadir di dalam arena kehidupan kita. Antara pahit hati dan sakit hati itu adalah saudara kembar. Keduanya datang dari lubuk hati manusia, aku dan kau.
Dia, bahkan sangat setia menemani hidup harian, dan di sepanjang hayat kita. Dia bersumber dan turun dari hati kita mulai dari ranjang tidur, di balai kota, ruang kuliah atau kelas, restoran dan pusat perbelanjaan, dan bahkan juga saat kita di ruang ibadah.
Dia setia menyertai dan menemani kita. Hati manusia itu sumber asalnya. Iri dan cemburu, dengki dan permusuhan serta persaingan telah melahirkan rasa pahit hati ini, bahkan hingga berkepanjangan.
Fenomena pahit pedih ini akan terekspresi lewat sorot mata nan sendu, pandangan mata yang meredup, dan upaya menghindar bertatap mata. Sering merasa tidak nyaman dan aman akan lingkungan adalah ekspresi dari gejolak kepahitan hati manusia itu.
Lubuk hati manusia itu sumber asalnya. Dalam konteks kerohanian dan keagamaan, kepada kita diajarkan untuk selalu menumbuhkan rasa cinta serta empati lewat tindakan kasih. Namun, harus juga diakui, bahwa fenomena ini, telah jadi hiasan hidup manusia.
Adam dan Hawa juga telah mengalami kepahitan ini. Kain dan Habel, Esau dan Yakub juga telah mengalaminya.
Hendaklah di dalam hidup ini, kita senantiasa berwaspada untuk senantiasa memelihara ketulusan dan kerendahan hati seperti hati Tuhan.
Sungguh, kepahitan hati itu telah melahirkan ketidaknyamanan!
Hati manusia itu sumber asalnya!
…
Kediri, 19 Februari 2025

