Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
[Red-Joss.com] Dunia, tempat hidup dan kehidupan kita, ternyata terbentang sangat luas.
Ada dunia konkret atau dunia riil, dan ada juga dunia bayangan, semu, dunia simbol isi nurani. Sebuah dunia dalam makna simbolik pun filosofis.
Dahulu kala, di padang gurun yang keras kerontang itu, justru dihuni oleh para pendekar rohani. Para pertapa, pendoa, dan pencari Tuhan, justru hidup dan bertapa. Jauh dari hiruk pikuk dunia dan kemewahan.
Di kala malam, hembusan angin keras kencang menerjang membentuk bukit-bukit bayangan, pepohonan semu, juga membentuk orang-orangan. Itulah yang dikenal dengan sebutan fata morgana.
Di kala siang benderang, sinar sang mentari pun memancarkan kuku-kuku apinya dengan ganas. Bumi ini terasa sangat panas.
Padang gurun itu pun juga sebagai simbol ketandusan batin. Simbol kekeringan hati. Suasana mencekam saat manusia hidup jauh dari tuntunan Sang Ilahi. Sebuah dunia simbol keterasingan.
Kita manusia, memang kadang kala juga perlu memasuki dunia padang gurun. Tujuannya agar dari sana kita dapat memetik amanat, bahwa ternyata keterasingan dari tuntunan Sang Ilahi justru sungguh menyengsarakan jiwa batin kita.
Secara rohani, janganlah kita memandang dunia padang gurun itu serba negatif. Karena di sana, Tuhan pun hadir menyertai sang manusia kesayangan-Nya.
Hal ini pun terbukti, bahwa di sana Tuhan menyediakan kelimpahan: mata air, butiran mana, serta tongkat kepemimpinan Musa Harun sebagai tanda kehadiran Tuhan.
Kediri, 9 Agustus 2023

