Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Ecce Homo”
“Lihatlah, hai Manusia”
(Ponsius Pilatus)
Yohanes 19: 5
“Ingat, justru di kala Anda jadi mayat, Anda baru benar-benar memiliki seraut wajah asli otentik, tanpa kamuflase.”
“Maka, belajarlah dari sekeping wajah mayat, jika Anda ingin memiliki sekeping wajah yang sungguh wajah”
(Aku yang Terjaga)
Tulisan refleksi ini, saya persembahkan kepada siapa saja yang memiliki sekeping hati yang sungguh peduli dan berempati kepada kemanusiaan semesta.
Ecce Homo
“Ecce Homo,” “Lhatlah, hai Manusia,” adalah statemen dari Ponsius Pilatus, sang Gubernur (prefek), dari Provinsi Roma di Yudea, kala ia menunjukkan Yesus yang menderita kepada khalayak ramai.
Penyataan ini mengajak kita agar rela: melihat dan memahami sisi-sisi kemanusiaan, kelemahan, dan penderitaan manusia.
Di sisi lain, ajakan ini justru ditujukan kepada diri kita sendiri, bahwa:
- (1) Siapakah sesungguhnya, kita yang menderita ini?
- (2) Mengapa justru kita turut menderita?
- (3) Dari manakah datangnya penderitaan itu?
Adapun makna yang terselubung dari ‘sekeping wajah duka’, bahwa kedukaan itu justru akan terekspresi lewat sekeping wajah manusia yang menderita. Karena bukankah wajah itu adalah cerminan dari identitas seorang anak manusia dan sebentuk empati terdalam sebagai ungkapan turut merasakan kesedihan orang lain?
Refleksi
“Ya Tuhan, janganlah menghukum aku dalam murka-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan amarah-Mu”
(Mazmur 6 : 2)
“Allahku, Allahku, mengapa, Engkau meninggalkan aku?
Aku berseru, tetapi Engkau tetap jauh dan tidak menolong aku.”
(Mazmur 22: 2)
“Tuhan, janganlah menghukum aku dalam geram-Mu, dan janganlah menghajar aku dalam kepanasan murka-Mu”
(Mazmur 38: 2)
“Homines Sumus, non Dei”
“Kita ini Manusia Lemah, bukan Dewa”
(Petronius)
Kediri, 25 Maret 2026

