Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Hanya Seutas Kafan
Kemegahan
dan keagungan
bagai hiasan belaka
kala jiwamu dijemput kereta senja
โฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆโฆ.
Jiwa letihmu kan kian meresah sepi
dan engkau pun beranjak hanya dililiti seutas kafan fana
(Pada Sepotong Catatan)
Tulisan ini berjudul, “Pada Sebuah Tanya,” bertolak dari sebuah refleksi tentang maut, sang kematian.
“Apa yang paling mendasar?” Demikian sebuah tanya!
Yang paling mendasar adalah, ketika engkau dibaringkan di dalam peti mati dan orang datang mengitari jenazahmu. Mereka melihatmu untuk terakhir kali.
Apa yang diingat orang tentang dirimu? Apa yang dirasakan keluarga dan orang-orang terkasih tentang dirimu?
Akhirnya, apa yang dikatakan Tuhan dan Penciptamu kepadamu, ketika engkau datang menghadap Dia? Itulah yang paling mendasar. Tak ada yang lain!
(Berhenti Sejenak Bersama Tuhan II, Rm. Jerry M. Orbos, SVD).
Ketika membaca dan merefleksikan tulisan kecil ini, hati kecil saya mulai merinding, entah apa dan mengapa.
Ternyata, hal yang paling mendasar pada akhir ziarah diriku, ialah โapa kata orang dan apa kata Tuhan” tentang diriku!
Bukan pada emas dan harta melimpah. Juga bukan pada pangkat dan aneka gelar hidupku. Aku ini hanyalah setitik debu di bawah telapak kakiku.
Sekali lagi, para saudara!
“Hal apa yang paling mendasar di dalam ziarah hidupmu?”
“Ajari kami menghitung
hari-hari hidup kami,
sehingga kami beroleh
hati yang bijaksana.”
(Mazmur 90: 12)
…
Kediri,ย 1ย Desemberย 2023

