Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Di seluruh dunia, sebuah makam biasanya tampak dan terasa sunyi.”
(Anonim)
…
| Red-Joss.com | Sebuah makam atau pemakaman memang ada di mana pun. Di seluruh dunia, terdapat pemakaman.
Di sana telah dibaringkan orang-orang yang telah meninggal dunia. Biasanya, sebuah pemakaman itu selalu terasa sunyi.
Tulisan Introspektif
Saya pun teringat pada seuntai tulisan yang tertera di atas makam seorang penjazah (pengabdi) di bidang edukasi.
“Di sini, dibaringkan seorang yang berjazah bagi umat manusia.”
Adalah sebuah fakta riil, bahwa sebuah kehidupan akan berakhir di liang kubur. Di sana, manusia yang di dalam wujud yang sudah tak bernyawa itu dibaringkan sebagai tempat peristirahatan terakhir.
Di sini pula, secara fisik biologis, jasad seorang anak manusia akan hancur, membusuk, dan melebur untuk kembali menjadi debu tanah. Biasanya, yang tersisa hanyalah tengkorak serta seonggokan tulang belulang nan rapuh.
Sang kebijaksanaan telah bertitah, “Manusia berasal dari debu tanah dan ia akan kembali menjadi debu tanah!”
Para filsuf pun telah mengajarkan, bahwa “Barang siapa, telah dilahirkan ke atas bumi maya ini, dia harus siap untuk menerima sebuah fakta paling pahit, ialah kematian!”
Amanat bagi Manusia
Di dalam sebuah makam, jenazah sang manusia itu dibaringkan. Di situ, di dalam kesunyian, sebuah proses penghancuran dan peleburan pun terjadi.
Di sini, di tempat ini pula, lewat keremangan dan kesunyian ini, seseorang yang pernah kita kenal, pernah ada, hidup dan berjuang telah dibaringkan.
Di kesunyian alam ini, seluruh proses hidup dan perjuangan seorang anak manusia itu akan berakhir.
Request in Pace (rest in peace): beristirahatlah di dalam kedamaian. Inilah seruan harapan dan permohonan bagi dia yang telah pergi untuk selamanya.
Lewat tulisan reflektif dan introspektif ini, apa yang terbetik di dalam sanubari sunyi kita? Ketakutan? Kecemasan? Ataukah keraguan akan seluruh makna dan arti dari hidup serta perjuangan ini?
Apakah hidup serta perjuangan ini merupakan sebuah kesia-siaan belaka? Ataukah sebagai sebuah absurditas belaka?
Hal ini, tentu sangat bergantung pada keyakinan dan pemahanan personal kita, akan makna serta arti sejati dari totalitas kehidupan ini.
โMemento Moriโ
Inilah sebuah proses biologis alamiah. Karena makhluk hidup apa pun akan menerima nasib yang sama.
Amanat agung yang terselubung dari balik peristiwa kematian ini, bahwa hidup dan kehidupan ini bersifat sementara. Hidup manusia itu tidak kekal!
…
Wolotopo/Ende,ย 29ย Meiย 2024

