| Red-Joss.com | Tidak ada orangtua yang jahat dan jelek, karena mereka berjuang demi memberikan yang terbaik dan untuk kebahagiaan keluarga.
Dalam kelemahan dan kekurangan, orangtua itu mempunyai sisi baik dan positif yang wajib diteladani, bahkan kita banggakan!
Coba amati, rasakan, atau putar kembali kisah hidup orangtua kita yang menginspirasi itu.
“Sesungguhnya, teramat banyak hal baik dan positif dari orangtua kita,” ungkap BS memulai dalam obrolan ringan sambil ngopi di gazebo samping rumah.
“Sayangnya kita menganggap hal itu biasa, atau membandingkan dengan orang lain. Sehingga kita kehilangan rasa bersyukur dan terima kasih pada orangtua. Bahkan, tidak sedikit di antara kita yang lebih percaya pada orang lain, ketimbang orangtua sendiri. Padahal tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan atau anaknya menderita.”
“Jujur, bagi saya pribadi, Bapak Ibu itu sumber inspirasi. Bagaimana tidak. Bapak Ibu tidak sekolah, tapi mereka ingin melihat anak-anaknya sukses. Demi anak-anak agar sekolah dan sukses itu, mereka bekerja keras, ibarat kepala digunakan jadi kaki.”
Saya dan RP beradu pandang dalam diam, ketika BS mulai sentimental menahan isak haru.
Orangtua BS bekerja sebagai buruh serabutan. Yang luar biasa adalah mereka sanggup mengentaskan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi.
Bagi saya, yang luar biasa juga nasihat Bapak Ibu BS pada anak-anaknya.
“Hendaknya kalian rukun, saling peduli dan berbagi satu dengan yang lain. Tapi jangan selalu bergantung pada saudara. Lebih bijak, jika kita bergantung dan berharap pada Allah, karena kita tidak bakal dikecewakan-Nya.”
Saya menekur mendengar uraian BS yang menyihir itu. Semangat kemandirian yang diajarkan oleh orangtua BS pada anak-anaknya untuk jadi pejuang hidup yang tangguh itu patut diapresiasi.
Orangtua yang ingin memberi, dan memberi kasih pada anak-anaknya tanpa berharap kembali. Memberi dengan ikhlas hati.
Saya lalu ingat dengan orangtua sendiri. Sesungguhnya, saya belum berbuat banyak untuk membalas kebaikan dan berbakti pada mereka.
Jarak yang berjauhan dan faktor ekonomi sering digunakan sebagai alasan untuk tidak bersilaturahmi, membangun empati, dan mengikat-eratkan hubungan hati.
Kini, setelah orangtua meningggal hanya sisakan sesal di hati. Hal yang sesungguhnya tidak perlu disesali. Lebih bijak, jika diambil hikmahnya agar hal serupa tidak terulang kembali untuk diwariskan pada generasi berikutnya.
Sesungguhnya, bagi saya dan orangtua lain, hal yang utama dan penting itu adalah membangun kesadaran anak untuk hormat pada orangtua dan berjiwa peduli untuk berbagi pada sesama.
Menjaga nama baik dan martabat orangtua adalah pilar utama untuk membangun hidup berumah tangga yang bahagia.
…
Mas Redjo
…
Foto ilustrasi: Istimewa

