“Berani merendahkan diri serendah-rendahnya agar orang lain tidak bisa merendahkan kita lagi.” -Mas Redjo
Semangat rendah hati itu harus dihidupi agar kita tidak sekadar berteori dan berpura-pura, tapi cerminan dari pribadi yang beriman dan bijaksana.
Bagi saya pribadi, meladeni hinaan dan cemoohan orang itu tiada guna, karena hanya merendahkan dan permalukan diri sendiri! Sebaliknya, ketika saya diam dan tidak membalas berarti hinaan itu kembali kepada orang itu!
Saya tidak tersinggung dan sakit hati pada mereka yang menyindir dan mencemooh itu, karena saya tetap merendah, bahkan bersikap makin baik dan tulus pada mereka.
Saya sadar-sesadarnya, itulah konsekuensi tinggal di komplek yang penghuninya heterogen. Apalagi rumah yang saya tempati itu warisan mertua dan saya berjualan di pasar.
Jika mereka tampil demi status dan gengsi, saya tetap hidup prihatin. Saya juga tidak mempunyai niat membeli kendaraan, hidup mewah, atau menyaingi mereka. Karena saya sedang membangun fondasi usaha. Target utama saya adalah mempunyai ruko sendiri daripada kontrak. Membeli barang juga sesuai dengan prioritas kebutuhan.
Prinsip saya untuk mengubah nasib sendiri adalah berbicara, berpikir, dan mengerjakan hal-hal yang baik dalam hidup agar nasib baik selalu menyertai.
Di suatu hari Minggu tahun 2009, saya mengundang warga RT di komplek untuk selamatan di toko baru.
Mereka datang dengan penasaran. Antara kaget dan tidak percaya, ketika melihat ruko yang besar itu. Saya tersenyum dan menanggapi ramah serbuan pertanyaan mereka.
Ruko Bapak? Kontrak atau milik sendiri, dan seterusnya.
“Saya malu ngomongnya, karena dipinjamin oleh bank,” kilah saya. Mereka yang mengejar tanya ke istri juga memperoleh jawaban yang sama. Istri tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Merendah itu bagi kami lebih bijak. Karena yang dunia ini hanya kesementaraan agar kami rendah hati.
Mas Redjo

