“Ketika mencurangi orang lain, kita persulit diri sendiri dan menutup pintu anugerah-Nya.” -Mas Redjo
…
Saya diam, tidak menanggapi atau mengomentari cerita LP tentang DK yang usahanya lancar. Mobilnya selalu baru dan gonta ganti.
Begitu pula cerita SR tentang TH yang sedang sakit itu memaksakan diri bertandang ke rumahnya, dan bermaksud meminjam uang untuk berobat.
Saya mengenal mereka, DK dan TH. Tapi tidak tertarik untuk mendengar, menanggapi, dan atau menambahi cerita tentang mereka. Karena tiada guna. Faktanya, meski cukup sering diingatkan, karena karakter yang buruk itu mereka sulit berubah. Saya juga telah memaafkan untuk mengubur dan melupakan mereka. Dengan berdoa ikhlas, agar tidak membebani pikiran sendiri.
Untuk LP yang mengatakan, bahwa rezeki orang yang curang tampak lancar dan berkelimpahan itu hanya ‘sawang-sinawang’. Kita tidak boleh iri, karena hal itu datang dari yang jahat.
Saya melihat bukti itu pada teman sekantor yang curang. Kerjanya membuat nota fiktif, dan kaya raya. Ketika ia meninggal, kuburannya disambar petir. Nama keluarga jadi tercemar akibat perbuatannya dan aib itu sulit dibersihkan.
Begitu pula dengan TH yang sakit-sakitan tiada kunjung sembuh. Hasil perbuatan curangnya itu habis untuk biaya berobat. Bahkan lebih tragis, karena keluarganya tidak peduli padanya lagi!
Materi sering kali membuat kita jadi silau, khilaf, dan lupa diri. Kita nekad berbuat jahat tanpa memikirkan akibat dan dampaknya. Sehingga berujung pada penyesalanan, tapi nasi sudah jadi bubur.
Berbeda hasilnya, jika kita menjalin hubungan baik dengan relasi, untuk bersikap jujur dan benar. Kebaikan itu akan menjaga dan melindungi kita dari yang jahat. Sedang orang yang jujur dan benar, karena takut akan Allah membuka pintu rezeki. Anugerah-Nya dahsyat dan tiada henti.
Terpujilah Allah.
…
Mas Redjo

