Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Dia elok bagaikan rembulan dan cemerlang laksana mentari.”
(Bahasa Kiasan)
Dunia pun Mengenalnya
Dunia beserta seisi kehidupan ini telah mengetahui, bahwa sosok pribadi yang berhati mulia itu adalah dia yang memiliki sikap: kebaikan, kejujuran, dan kepedulian kepada sesamanya.
Dia seelok laksana sekeping rembulan dan bahkan secemerlang sekeping mentari. Dialah sosok pribadi berhati mulia.
Kisah sang Penyayang
Setelah perang Uhud, sahabat Nabi Muhammad melihat, bahwa wajah Nabi terluka. Bibir dan wajahnya terluka berlumuran darah. Seorang rekan terdekatnya, Umar bin Khattab pun berkata,
“Wahai sang Rasullulah, mintalah Allah untuk mengazab musuhmu.”
“Wahai sahabatku Umar, lupakah engkau, bahwa aku ini dikirim sebagai rahmat?”
“Tapi, bukankah mereka telah melukaimu hingga berlumuran darah, wahai Rasullulah.”
Tapi Rasullulah tidak menggubris seruan Umar. Beliau kemudian mengangkat kedua tangannya ke langit dan berdoa, “Ya Allah, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu, apa yang telah mereka perbuat.”
(Berguru pada Saru)
Hatinya Seluas Samudra
Mencermati kisah Nabi si pemurah hati ini, sungguh tergerak nurani kemanusiaan kita dan bahkan merasa seolah-olah turut tersayat, karena kesabarannya.
Mengapa? Justru tidak ada sebetik rasa dendam membara di dalam dada tulusnya. Dia bahkan hanya menyerahkannya kepada kebijaksanaan Sang Ilahi lewat sepotong doanya.
Bahkan sang Nabi masih sanggup membuka sempitnya hati Umar dengan menyatakannya, bahwa dia justru diutus sebagai pribadi berahmat.
Bukankah sosok pribadi yang berahmat adalah sosok pribadi yang memiliki: sikap rendah hati, setia, simpati, dan tidak egois, bukan?
Jika memang demikian, maka sungguh, betapa luhur dan terhormatnya tabiat dari seseorang yang berhati emas. Dia yang sungguh luas dan dalam khasanah isi hatinya.
Mari Menguji Sikap Manusia
Sang kebijaksanaan telah mengajarkan pada kita, bahwa dalam dan luasnya kualitas pribadi seorang anak manusia, dapat diukur lewat ketiga hal berikut ini:
- Sikap perbuatannya terhadap orang yang telah menzaliminya.
- Sikap perbuatannya terhadap bawahannya.
- Sikap perbuatannya tatkala tidak ada mata yang melihat dan mengetahuinya.
Refleksi!
Ya, Sumber segala Rahmat dan Kebaikan, jika memang demikian, maka:
“Sesungguhnya, siapakah kami ini?”
…
Kediri, 15 Agustus 2025

