| Red-Joss.com | Ojo dumeh adalah cara sehat untuk hidup bahagia. Kata ‘ojo dumeh’ saya padankan dengan kata tahu diri. Seorang yang tahu diri cenderung hatinya lebih tentram dan hidupnya jauh dari konflik. Ayem.
Banyak bukti: kemudahan dan kenyamanan kerapkali menjadi kriteria pilihan seseorang untuk menjadi bahagia dan mengabaikan hal-hal kecil yang sebenarnya penting, jika dikaitkan dengan pencarian kehendak Allah.
Sikap ‘dumeh’ diisyaratkan dalam Mt 5: 20 begini: “jika penghayatan kebenaranmu tak lebih kaya wawasan daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.”
Sosok yang dikritik Yesus ini ialah mereka yg menghayati mental ‘dumeh’ (mentang-mentang): mentang-mentang hafal Alkitab, lantas meremehkan orang yang kurang paham Kitab Suci; mentang-mentang sudah menjalankan perintah agama, lalu merasa puas diri; mentang-mentang punya posisi penting dalam struktur Gereja, lalu menuntut orang lain, supaya memenuhi aturan yang dibuat; mentang-mentang sudah lulus kursus Alkitab, lantas orang tak mau peduli dengan rambu-rambu yang diupayakan untuk mencapai kehendak Tuhan. Yang dibutuhkan adalah sosok yang ‘tahu diri’ (ora dumeh).
Tahu diri di hadapan Allah memiliki pengertian memahami dengan penuh kesadaran terhadap keadaan diri sendiri sebagai makhluk Tuhan. Hal ini sangat penting kita miliki, karena kita ini hamba Tuhan, yang dipanggil untuk semakin mengasihi, makin peduli dan bersaksi.
Tetap rela berbagi cahaya.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

