Karena dengan dan oleh salib-Mu, aku ditandai untuk membawa dan memanggulnya. Sehingga aku dimenangkan dan diselamatkan oleh-Mu.
Hal ini tidak menunjukkan, bahwa aku ini hebat. O, tidak sama sekali. Ini juga tidak berarti, bahwa aku ingin pamer. O, tidak ada niatan seperti itu. Sekaligus tidak berarti juga, bahwa aku memperlihatkan berbeda dengan yang lain. Sekali lagi, jangan salah paham.
Karena sesungguhnya, aku mau memperlihatkan tentang pilihan, keputusan, dan panggilan yang berbeda. Aku ingin menunjukkan, bahwa ada makna dari panggilan kemuridan. Sekaligus menegaskan, bahwa panggilan kemuridan itu harus dijalani dengan taat dan setia. Aku mau menggaris-bawahi, bahwa menjadi murid Tuhan Yesus adalah hadiah yang unik.
Oleh sebab itu, aku selalu ingin mensyukuri, menjalani, dan mendalami panggilan kemuridanku, supaya tidak takut, ragu, goyah, dan aku tidak melepaskannya.
Kepadaku telah diperkenalkan dan didekatkan, siapa itu Tuhan Yesus. Kepadaku telah diperlihatkan, betapa Dia yang selama ini aku cari dan menjawab kerinduanku. Jujur, sebenarnya aku sudah dimenangkan-Nya dan sesungguhnya, saat ini juga, dalam kebenaran-Nya, aku sungguh telah diselamatkan.
Aku melihat sekarang, bahwa panggilan kemuridan sebagai kesaksian untuk memberikan teladan ketaatan dan kesetiaan. Melalui ketaatan dan kesetiaan itu, aku terus menghayati Hukum Kasih-Nya: Cinta kepada Bapa dan cinta kepada sesama.
Sebab pada akhirnya, dengan cintalah aku dihantar dan bertemu kepada Sang Cinta Sejati. Sekarang aku sudah merasakannya, tapi kelak, menjadi sempurna dalam segalanya. Santo Paulus mengatakan, “bisa saling memandang muka dengan muka.” Tidak ada yang membatasi perjumpaan cinta itu.
Siapa pun, kapan pun, dimana pun bisa memakai salib. Tapi tidak semua orang sanggup memanggul salib-Nya, apalagi harus setiap hari. Amin.
Hong Kong, 15 Februari 2024
Rm. Petrus Santoso SCJ

