Sekali peristiwa, seorang cantrik menghadap pada Guru Bijak. Wajahnya cerah sumringah.
“Ada apa, Ngger?”
“Saya mau pamit, mohon restu …”
“Tekadmu sudah bulat?!”
“Doa Guru,” sahut cantrik itu takzim. Guru Bijak mengamati cantrik itu dengan seksama.
“Di manapun kau berada, hendaknya kau terus belajar untuk mengosongkan diri supaya damai sejahtera besertamu.”
Cantrik itu manggut mengiyakan.
Kata-kata Guru Bijak tempo hari sangat mengusik hatinya, ketika ia bermaksud meninggalkan padepokan untuk merantau, karena sedikit berselisih dengan seniornya.
Tiba-tiba seorang seniornya mematikan radio yang tengah ia setel, karena beritanya tentang pembegalan yang berakhir tragis, karena hilangnya nyawa seseorang.
Kata seniornya, sebagai seorang cantrik tidak patut mendengarkan berita seperti itu. Menebar teror ketakutan. Mengerikan. Lebih elok itu mendengarkan hal-hal baik, positif, menyejukkan, dan yang
membuat orang jadi hepi.
Betul, caranya tidak asal melarang, tapi mengingatkan.
Apa isi dunia ini hanya kebajikan? Atau kita mau jadi katak dalam tempurung; jauh dari hiruk pikuk kehidupan?
Kalau peristiwa tragis itu berkaitan dengan famili atau sahabat kita yang mengalami itu harus diberi tahu. Apakah kita tidak peduli dan masa bodoh?
Sedikit terjadi adu argumentasi, tapi ia tidak mau memperpanjang. Baginya percuma sebab di mana pun senior itu merasa lebih mumpuni. Sering merasa benar sendiri dan tidak merasa bersalah. Padahal, dalam suatu diskusi itu hal-hal yang mesti dijauhi adalah sifat merasa benar atau salah. Diskusi itu tidak lebih sekadar tukar pikiran, yang jauh dari pemaksaan kehendak.
“Ngger, untuk dimampukan mengosongkan diri modal utamanya adalah kau membuka hati dan berpikir positif, supaya kau sungguh rendah hati dalam menyangkal diri. Kau lebih murah hati dan pemaaf untuk mengalah secara ikhlas supaya tidak sakit hati. Biarlah alam yang akan menyeleksi kebenaran hakiki.”
Ya, kenapa kita mesti berdebat tanpa juntrungan, kalau untuk melukai dan sakit hati, permusuhan atau mendendam satu sama lainnya. Bukanlah awal perselisihan itu datangnya dari ego sendiri? Manusia diberi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berkata-kata, juga indra yang lainnya … Apakah kita mesti menutup mata, telinga dan mematikan indra … Atau lebih baik kita hidup sebagai pertapa, tinggal di hutan … Supaya hati dan pikiran ini dijauhkan dari hal-hal negatif dan traumatis.
Kenapa kita dalam menilai suatu peristiwa tragis sebagai sesuatu yang jelek dan buruk. Bukankah dengan adanya kejadian itu kita diingatkan untuk selalu ‘eling lan waspada’; mengambil hikmah dari suatu peristiwa; baik sedih atau gembira. Bagaimana kita menyikapi dan sejauh mana mata hati kita mampu melihatnya secara jernih.
Yang jelas, bagaimana kita mau membuka hati ini dan belajar untuk makin peka agar kita dimampukan dalam menyikapi suatu peristiwa dukacita lalu merubahnya jadi sukacita. Caranya? Kita mengambil hikmahnya secara bijak. Sebagai contoh, seseorang yang sakit menahun ke luar masuk rumah sakit, apakah itu suatu penderitaan, hukuman atau karma? Dari sudut mana kita melihat dan menilainya? Tuhan mempunyai rencana dengan peristiwa itu.
Patut direnungkan pula, apakah orang yang ‘ngrawuh ilmu’ lebih dulu dan senior itu pasti lebih mumpuni dari yang belajar belakangan?
“Ngger, hidup kita ini ibarat setitik kesadaran di Samudra Kesadaran Allah. Bagaimana kita dimampukan untuk mengembangkan yang setitik itu menuju ke-Maha-luas-an Allah sekiranya ego kita lebih dominan; pendendam, suka mengumpat, nyinyir, menfitnah, menghina orang, dan sebagainya. Hanya dengan kerendahan hati kita menyikapi setiap permasalahan tanpa terluka; mengingatkan tanpa menyakiti, lalu semua permasalahan itu kita bawa dalam doa semoga Sang Yang Widhi memberi nur pencerahan pada kita semua.”
Cantrik itu merasakan dadanya seperti diguyur air pegunungan dan hatinya jadi nyes. Damai.
Ia merasa dirinya makin kecil tidak berarti; sekaligus tertantang untuk mengejawantahkan pencerahan Guru Bijak.
Ya, semoga ia dimampukan untuk menelaah falsafah “Ojo rumongso biso, nanging biso o rumongso.”
Apa artinya hidup ini tanpa penyertaan Allah?
Mas Redjo

