Di tanah ini, kita diizinkan oleh Tuhan untuk menghirup napas yang sama dalam keberagaman di bumi Nusantara. Dimulai dengan heningnya Nyepi untuk menyucikan jiwa, diperkuat dengan fitrah Idul Fitri untuk saling memaafkan, dan disempurnakan oleh terangnya Paskah sebagai lilin pengharapan. Inilah oase spiritual kita; tempat di mana perbedaan itu ‘luluh jadi kemanusiaan sejati.
Perbedaan acap kali membuat ‘apa daya’ seseorang, karena sakit seperti pria yang bertahun di tepi kolam Betesda. Ia bukan kurang beriman, ia hanya tidak mempunyai teman. Ia mempunyai harapan, tapi ia tidak punya daya mencapainya Maka membuatnya ‘apa daya’. Siapa temannya atau siapa menemaninya?
Hari ini, aku mau menemani. Tidak perlu jadi luar biasa. Aku cukup jadi teman yang hadir. Aku ingin jadi jawaban kecil bagi seseorang yang hampir menyerah pada harapannya.
Monggo!
Berkah Dalem.
Jlitheng

