Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Wahai sang waktu, wahai sang kehidupan,
ada apa denganmu. Semoga kamu pun baik-baik saja.”
(Amanat Agung sang Kehidupan Sejati)
Berdasarkan pemaknaan secara filosofis, bahwa sejatinya manusia hanya memiliki ‘tiga hari’ di dalam hidupnya.
Sungguh, kita hanya memiliki “hari ini, hari kemarin, dan hari esok.”
Adapun hari ini, adalah detak sang waktu riil bagi manusia untuk hidup, bergerak, dan berada secara faktual.
Keberadaan hari ini pun, akan kita lewati dan dia pun tak pernah akan kembali kepada kita.
Jadi, ‘hari ini,’ sungguh sangat penting untuk mewariskan sesuatu, sebagai jejak-jejak peninggalan hidup kita bagi kemanusiaan.
Nikmatilah hidup di hari ini, seolah-olah kita tak akan pernah mati, demikian kata sang penikmat hidup (carpe diem), kata orang Latin.
‘Hari kemarin’ adalah hari yang telah kita lewati. Dia pun tak akan pernah kembali ke pangkuan kita. Apa yang telah kita taburkan di hari kemarin?
Sedangkan ‘hari esok’ adalah saat mendatang. Dia masih berada di awang-awang kita, namun sungguh penting untuk dipersiapkan.
Petuah: isilah hidup kita di hari ini dengan sebuah cita-cita dan harapan, sehingga kelak akan berbuah lebat, adalah sebuah idealisme.
Bahkan juga secara arif dikatakan, bahwa kualitas hidup kita di hari ini, akan sangat menentukan kualitas hidup kita di hari esok.
“Apa yang kita taburkan pada hari ini, akan dituai di hari esok.”
“O Tempora, O Mores,” yang artinya “Duhai sang Waktu, Duhai sang Kehidupan,” adalah sebuah seruan dalam pidato Cicero. Dia, seorang penyair dan sejarahwan besar di zaman Romawi kuno.
Ada pun lewat seruan itu, beliau ternyata mau menggambarkan suasana kegelisahan dan kegusarannya akan keadaan miris di dalam Kerajaan Romawi di kala itu.
Dia pun telah melukiskan keadaan, lewat banyaknya gerakan politik di awal abad Masehi Romawi, sebagai masyarakat yang tidak karuan, hidup tanpa norma moral, dan praktik korupsi yang merajalela.
Sedangkan suasana kehidupan perpolitikan, ternyata sangat jauh dari ideal. Orang seenaknya mempraktikkan hidup berpolitik secara brutal, penuh rasa iri dan dengki, saling menjegal dan menjatuhkan, serta hidup dihiasi kebohongan.
O Tempora, O Mores adalah sebuah ratapan abadi. Tangisan pilu yang tak kenal zaman dan budaya.
Kepiluan hati sejarahwan dan penyair Cicero di zaman Romawi ini, ternyata juga menjadi tangisan pilu kita di hari ini, di negeri ini.
Sungguh, anak manusia di bawah kolong langit, entah kapan dan di mana pun, ternyata tetap dan sama saja.
Jika Anda ingin sekadar mendinginkan nuranimu, bersandarlah pada adagium, ‘errare humanum est’ artinya kekeliruan itu, sifat bawaan manusia.”
Kediri, 9 Maret 2024

