| Red-Joss.com | Bersikap cuek bagi sebagian orang merupakan hal biasa dan wajar. Bahkan tidak sedikit di antara kita yang bersikap masa bodoh dan tidak peduli.
Untuk apa mengurusi orang lain? ‘Enakan cuwek bebek yang penting hepi,’ begitu pikir kita. Apalagi bagi kita yang hidup di kota besar dan individualistis. Benarkah demikian?
Jangan biarkan sifat cuek, masa bodoh, dan individualistis itu bertumbuh di hati kita? Kenapa? Jika dibiarkan sifat ini akan mengakar kuat, mencengkeram dan membuat kita sulit bernafas serta tak berdaya. Bukan hanya itu. Lama kelamaan nurani kita menjadi tergerus dan kekurangan gizi, layu dan akhirnya mati. Kita kehilangan empati dan nurani. Penyakit akut ini yang mesti disikapi dengan bijak.
Ada pepatah, “lebih baik kita menerangi rumah kita dulu sebelum menerangi di luaran.” Betul, bagaimanapun kita mesti lebih mendahulukan kepentingan keluarga, komunitas kita. Tapi bukan berarti kita menutup mata dan telinga, ketika melihat dan mendengar kejadian yang membutuhkan bantuan. Selain itu, kalau kita terus menerus mendahulukan kepentingan keluarga atau komunitas, kapan kita punya waktu untuk orang lain? Karena masalah dalam keluarga itu tiada habisnya!
Langkah bijak untuk menentukan sikap adalah dengan terus menerus berbuat baik. Ibarat menyalakan pelita dan ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya (Luk 8: 16). Karena, jika kita mampu melakukan, kebaikan itu tidak boleh ditahan untuk siapa pun (Ams 3: 27-34). Bukan untuk pamer atau pamrih, sebab cepat atau lambat, kebaikan kita akan dilihat orang. Jika kita melakukan kebaikan, Tuhan akan melimpahkan kemampuan untuk berbuat baik. Sebaliknya, kemampuan baik yang sedikit, akan diambil karena tidak dipraktekkan (Luk 7: 16-18).
Jika kita selalu membiasakan diri bersikap cuek, masa bodoh dan tidak peduli, maka secara pelan tapi pasti nurani kita terkikis dan mati. Lebih parah lagi, kita kehilangan empati dan egoistis. Kenapa? Hati kita tidak tergerak melihat korban kecelakaan, gempa bumi, kelaparan, atau korban perang. Kita kehilangan empati, peduli, dan mati rasa. Bagaimana, jika hal itu menimpa keluarga kita sendiri?
Jangan biarkan sikap masa bodoh dan egoistis itu bertumbuh dalam hati ini. Sebaliknya, sikap peduli dan empati itu mesti dipupuk di hati. Kita sirami nurani ini dengab mata air yang bersumber belas kasih, yakni salib Yesus …
Terus bertumbuh dan berkembang dalam iman agar kita menghasilkan buah-buah kasih-Nya.
…
Mas Redjo

