Sesekali aku pergi berdua dengan istri untuk bernostalgia. Kami bernostalgia sekadar mengunjungi tempat yang pernah didatangi. Tidak hanya romantis, tapi kami ingin merajut-eratkan kisah kasih berdua.
Kami ingin memutar kembali kisah kasih kebersamaan dulu. Sekaligus menumbuhkan harapan kami yang mungkin saja terlewati atau belum terwujud, karena kesibukan kerja dan mengurus anak.
Ternyata dengan bernostalgia itu pengaruhnya luar biasa. Suasana rumah yang serasa membosankan itu berbeda dengan nuansa lokasi yang mampu mematik kenangan indah.
Komitmen bersama diingatkan lagi. Apa harapan kami dulu, ketika memadu janji?
Dengan bernostalgia mendatangi tempat-tempat yang pernah kami kunjungi itu menggelorakan hati. Serasa aneka bunga pun bersemi kembali dan menyebarkan wangi cinta.
Sungguh, dengan bernostalgia itu mengajak kami untuk merefleksikan perjalanan rumah cinta kami untuk melihat dan merenovasi bagian mana yang harus diperbaiki dan
dicat lagi.
Dengan menapak tilas jejak cinta itu kami merajut harapan menguntai masa depan yang pasti dan makin baik lagi.
Menghidupi ikrar janji pernikahan suci.
Menyalakan komitmen dengan api setia.
Saling mengasihi dalam Kristus.
Hidup bahagia untuk selama-lamanya.
Mas Redjo

