Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | “Kita belajar untuk hidup, tidak demi sekolah/ijazah.”
Auguste Rodin, memahat sebuah patung, ‘the thinker’ sang pria yang duduk sambil bertopang dagu, simbol, ‘sang anak manusia sebagai makhluk yang berpiki’r.
John Dewey, sang filsuf edukasi, asal Amerika, dasar pemikirannya, “long life education.” Konsepnya, bahwa proses pendidikan itu berlangsung seumur hidup.
Mengapa dan untuk apa sang manusia itu perlu belajar dan dididik, bahkan terus belajar dan dididik sepanjang hayatnya?
Alkisah, Zhang Liang, seorang anak muda, hidup pada akhir Dinasti Qin. Ia melintas di atas sebuah jembatan. Saat itu, seorang kakek compang camping pun sengaja menjatuhkan sepatunya ke sungai. Kakek itu memanggilnya, “Hai anak muda, ambilkan sepatuku!”
Zhang Liang agak marah, karena merasa dipaksa. Tetapi, dia menurut juga. Bukan terima kasih yang didapat. Malah, Zhang Liang disuruh untuk memakaikan sepatu itu ke kaki sang kakek. Lalu sang kakek pun pergi.
Zhang Liang memandang bengong ke arah sang kakek itu.
“Anak muda, ternyata, kamu bisa dididik!” kata sang kakek itu. “Lima hari lagi, di saat subuh, datanglah kemari, bertemu saya di sini!”
Lima hari berikut, Zhang Liang pun datang, namun dia terlambat. “Kamu terlambat, lima hari lagi kita berjumpa di tempat ini.”
Lima hari berikutnya, Zhang Liang datang sangat pagi, namun ia terlambat lagi.
“Ini kesempatan terakhir buatmu. Datanglah lima hari lagi.”
Zhang Liang pun bangun di tengah malam untuk memenuhi janji paling akhir itu. Subuh itu, Zhang Liang menunggu sang kakek.
Sang kakek pun datang dan menyerahkan ‘sebuah buku’ sambil memujinya. “Anak muda, kamu orang yang bisa dididik. Bisa mengendalikan emosi. Kamu pun pantang menyerah. Saya pun sangat kagum padamu.”
“Buku ini, kitab strategi berperang, pelajarilah dengan tekun, dan kamu akan menjadi pribadi luar biasa.”
Kelak, dia pun menjadi penasihat…
(The best of Chinese Wisdoms, Leman)
Saudaraku, itulah cara serta proses mendidik anak manusia. Ada proses “menguji dan menilai.” Tentu, kita baru dapat menguji dan menilai sesuatu, berarti sebelumnya telah ada proses paling awal yang berlangsung di dalam keluarga. Lalu, ada proses yang berlangsung di dalam masyarakat, lingkungan pergaulan si anak. Juga, proses yang lebih formal, terjadi di dalam lingkungan sekolah.
Di dalam proses edukasi, perlu ada perencanaan matang. Ada kemauan, ketulusan, kesabaran, serta tanggung jawab.
Sang manusia belajar demi hidupnya, dan bukan sekadar demi sehelai ijazah. Ijazah itu hanyalah tanda tertulis, bahwa sang anak memang, sungguh pernah belajar dan berproses. Dan itu, bukanlah aspek tujuan pendidikan.
Semoga, lewat tulisan kecil ini, kita pun tergerak untuk rela mengubah dan mau menata kembali cara, arah, orientasi, serta proses pendidikan di tanah air kita tercinta.
“Lebih mudah, menanam serumpun bambu kuning daripada mendidik sang anak manusia.”
…
Kediri, 27 Maret 2023
…

