“Hilang uang itu bisa dicari, tapi kepercayaan yang hilang itu sulit didapatkan kembali.” -Mas Redjo
…
Kepercayaan itu ibarat selembar kertas putih bersih. Jika kita khilaf dan curang, kertas itu jadi kotor. Kita tidak bisa menutupi kesalahan itu, meskipun disetip, ditip-ex, atau bahkan dicuci. Jikapun kita dimaafkan atas kekhilafan itu, kertas itu tetap bernoda, kotor, dan bercacat!
Bagi saya, kejujuran itu bernilai tinggi, bahkan lebih mahal daripada emas permata, sehingga harus dijaga dan dipertahankan kilaunya dengan segenap hati dan jiwa ini.
Kita tidak boleh berasumsi, dengan minta maaf atas khilaf dan salah, nama baik itu langsung tercuci, dan kertas kotor itu jadi bersih tiada bernoda lagi. Faktanya, benarkah orang yang kecewa dan terluka atas ketidakjujuran kita itu berbesar jiwa untuk melupakannya? Jika tidak? Bagaimana pula dengan sikap kita sendiri?
Kita dimaafkan dan dikasihi itu anugerah. Tapi jangan sampai kita khilaf dan mengulang kesalahan itu. Sebaliknya, pemberian maaf itu hendaknya jadi bahan refleksi untuk perbaiki diri, bahwa kita sungguh bertobat, berubah, dan jadi makin baik agar orang yang memaafkan kita itu bahagia. Tidak sebaliknya, orang baik itu dimanfaatkan demi kepentingan dan keuntungan pribadi.
Sejatinya tidak ada orang yang luput dari khilaf dan kesalahan itu benar. Tapi tidak identik kelemahan dan kekurangan itu dimaklumi dan dijadikan senjata kita untuk berbuat salah, curang, dan mengulanginya.
Stop untuk berbuat salah, khilaf, dan curang!
Saatnya kita belajar berpikir cerdas dan berhati-hati sebelum bertindak dan berbuat khilaf serta salah. Teliti sebelum membeli, berpikir saksama sebelum berbuat, dan mohonlah pertolongan Allah agar dari pikiran, perkataan, dan perilaku kita itu mencerminkan kasih-Nya.
Jika dibohongi atau dicurangi orang itu sakit. Jadi tidak seharusnya kita menyalahgunakan kepercayaan Allah, dan mencurangi orang lain. Karena Allah melihat hati kita!
“Bijaklah bersikap. Karena kejujuran dan kebenaran itu mahkota jiwamu!”
…
Mas Redjo

