Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Silentium Magnum“
(Keheningan Agung)
(Tradisi Membiara)
…
Memori Awal Hidup
Di bulan Juli tahun 1971 saya memasuki jenjang pendidikan SMP Seminari Mataloko, Ngada, Flores, NTT setelah menamatkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD).
Saya masih ingat di saat pertama kali menginjakkan tumit ini di gerbang utama kompleks Seminari.
Di situ terpampang seuntai tulisan berupa sebuah adagium Latin mencolok berwarna kehitaman, “Silentium Magnum.”
Makna Sejati Keheningan Agung
Mengapa kita perlu suatu keheningan? Apa itu keheningan agung? Kondisi itu bukankah sekadar suatu keadaan tanpa kebisingan suara atau tanpa aktivitas. Kuga bukan sekadar keadaan tanpa super-aktivisme.
Tidak! Karena suatu keheningan tidak identik dengan keadaan diam dan sunyi. Melainkan hal itu terkait dengan suasana batin manusia.
Hal itu lebih berkaitan dengan sebuah ‘sikap batin’ dalam menyikapi dinamika dan gejolak hidup kita.
Nilai Keheningan
Suatu hari, seorang petani diajak untuk membantu bekerja di sebuah lumbung padi. Saat asyik bekerja, arloji tangannya terjatuh ke dalam tumpukan padi. Sambil meratapi kemalangannya, ia menyalakan sebuah lentera sambil menggaruk-garuk tumpukan padi itu.
Bahkan temannya turut membantu. Namun nihil, sia-sia, mereka tidak menemukan arloji itu. Akhirnya mereka gusar dan marah-marah.
Di saat mereka sedang asyik bersantap siang, seorang bocah kecil memasuki lumbung itu dan merebahkan diri untuk tidur. Di saat itulah dia dengan mudah menemukan arloji itu.
Ketika pemilik arloji menanyakan, “Mengapa justru dengan mudah dia menemukan arloji itu?”
Sang bocah mungil pun menjawab, “Di saat saya hening berbaring di tumpukan padi itu, telinga saya mendengar detakan halus jarum arloji itu.”
Bruno Hagspiel
(1500 Cerita Bermakna)
Silentium Magnum alias great silence adalah suatu “Keheningan Agung,” yang dengan ikhlas saya persiapkan demi keheningan ruang batinku sendiri. Lewat kondisi hening ini, saya akan lebih mampu untuk mengolah hidup ini.
Kita perlu menyadari, mengapa bocah itu, justru dengan mudah mampu menemukan arloji itu? Bukankah justru di saat dia sedang hening berbaring; maka telinga batinnya dengan mudah menangkap detakan halus arloji itu?
Mendengar Suara Tuhan dalam Keheningan
Itulah sebabnya, mengapa para arifin selalu menampilkan diri dengan lebih hening di dalam hidup mereka?
Karena di dalam keheningan batin, kita lebih mampu mengenali diri, sanggup berdamai dengan kondisi hidup dan mensyukurinya; dan bahkan inilah momen paling spesial untuk mendengarkan suara Sang Ilahi.
…
Kediri,ย 2ย Novemberย 2024

