Oleh : Mas Redjo
[Red-Joss.com] Pernahkah kita merunut peristiwa demi peristiwa dalam hidup ini, lalu menarik benang merahnya? Coba dipikir dan direnungkan. Apa yang kita peroleh?
Ya, benar! Semua peristiwa itu saling berkait dan menyambung. Sehingga membentuk lukisan yang indah memesona. Allah memberi kita yang terbaik!
Hal itu yang terjadi dan saya alami. Meski pada awalnya saya berontak, memprotes, marah, dan ngambek.
Bagaimana tidak. Saya berdoa, beribadah, dan rajin melamar pekerjaan. Tapi semua yang saya kerjakan itu seperti tidak ada gunanya dan sia-sia. Saya tetap menganggur. Sehingga saya memutuskan hijrah ke Ibukota untuk memperbaiki nasib.
Jika tidak merantau, nasib saya tidak bakal berubah, dan hidup saya tidak mungkin seperti saat ini.
Dengan merantau, saya dituntut berjuang dengan kesungguhan hati demi memperbaiki nasib agar hidup makin membaik, dan mapan.
Tantangan di rantau membuat saya tidak bisa hidup santai berleha-leha. Saya harus aktif produktif dan giat bekerja, jika ingin mengubah nasib.
Tanpa disangka, saya memperoleh pekerjaan, ketika saya memasang iklan kerja di berita Paroki โLonceng Kebayoran.โ
Benang merah jalan hidup saya tampak makin jelas menjadi lukisan nan indah memesona.
Sesungguhnya, ketika kita ingin melakukan suatu pekerjakan, โniat hati itu harus dimurnikanโ agar kita tidak pamrih, melakukan perbuatan yang menyimpang, atau merugikan orang lain.
Ketika masih di kampung, saya berdevosi pada Bunda Maria dan rajin beribadah. Tujuannya agar segera memperoleh pekerjaan, tapi saya pamrih. Ketika doa itu tidak dikabulkan, saya protes, emosi, dan ngambek.
Padahal berdoa dan beribadah itu harus ikhlas sebagai ungkapan puji dan syukur pada Allah. Jika doa itu belum dijawab dan dikabulkan, kita semestinya makin sujud dekatkan diri dan berusaha lebih giat lagi.
Jalan hidup saya adalah harus merantau untuk bekerja di Ibukota.
Begitu pula dalam bekerja. Tugas saya adalah melayani dan memberi yang terbaik pada pelanggan. Meski sering bertemu dengan bos perusahaan, tidak ada keinginan di hati ini untuk mendua atau minta job sampingan.
Bekerja itu harus miliki komitmen, jujur, setia pada profesi, dan bertanggung jawab.
Saya juga tidak mengikuti pameo orang, โKalau bisa mudah kenapa dipersulitโ, atau โABS alias asal Bapak senang,โ atau menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri.
Bagi saya pribadi, bekerja itu suatu keberuntungan. Karena dipercaya, kita diberi kesempatan untuk pengembangan dan pembuktikan diri. Makin maju, kian berprestasi.
โSelalu melihat hikmat dalam setiap peristiwaโ adalah intisari untuk menjadi pribadi yang rendah hati. Ilmu itu saya dapatkan dalam suatu rumah retret yang menggugah dan mencambuk kesadaran saya. Bahwa tanpa direfleksikan, hidup itu tidak layak dihidupi.
Sesungguhnya, hidup ini harus terus diperbarui untuk makin baik, dan lebih baik lagi.
Niat hati yang dimurnikan itu sumber berkat. Hidup bermakna bagi sesama.
Masย Redjo

