| Red-Joss.com | Sumber refleksi Yoh 8: 1-11, “Keheningan Bait Allah pagi itu berubah menjadi riuh, karena ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berdatangan menyeret perempuan yang kedapatan berbuat zinah dan meminta Yesus menghakiminya.”
Yesus paham akal bulus mereka. Ia tak mau dijebak, maka tidak meladeni mereka. Yesus hanya membungkuk dan menulis sesuatu di tanah dengan jari-Nya.
Ada yang bertanya: “Apa yang ditulis-Nya?” Yohanes tidak menjelaskan tentang hal ini.
Jika memperhatikan kisah Yohanes dan perspektif saya sebagai orang Jawa, tulisan Yesus di tanah itu jelas: “Mbok ngilo githoke dhewe!” Maka satu per satu pergi, mulai dari yang tertua.
Kita yakin, bahwa saat Yesus menulis di tanah, Ia sedang memberi waktu untuk semua orang yang ada di sana agar melihat diri sendiri sebagai orang yang juga berdosa. Mau ngilo githoke dhewe! Tak mudah menghakimi sesama
Sebagai yang punya otoritas mengadili dosa, Yesus mau memberi ‘pitutur’ kepada semua, sesama orang yang berdosa, bahwa kita ini sebenarnya sama saja, butuh diampuni dosanya dan dengan demikian ‘butuh saling mengampuni dan bukan menghakimi’.
Selalu semangat mengampuni dan bukan menghakimi.
…
Jlitheng
Foyo ilustrasi: Istimewa

