Red-Joss.com – Kata ‘Sri’ adalah kiasan untuk nama-nama umat Gereja Santa Bernadet (Sanberna). Ndang muliho… adalah pernyataan rindu untuk segera bertemu seperti dulu.
Perayaan Haul Sanberna ke 33 akhirnya selesai sudah. Saya tidak hadir, maka tidak banyak info kecuali berita ‘sinambi woro’, bahwa ada tumpengan.
Dalam konsep Jawa dikenal ungkapan ‘sangkan paraning dumadi’ yang berarti tahu dari mana dan akan ke mana segala makhluk. Kemudian, ‘mulih ing mulanira’ yang berarti kembali ke asalnya,” kata Dr Ari, seorang ahli kejawen.
“Agar kembali ke Tuhan atau kaitannya dengan konsep surga dan neraka, manusia harus berbuat baik dan berhati-hati dalam hidup di dunia yang penuh carut-marut seperti yang dilambangkan oleh lauk-pauk nasi tumpeng,” kata dia.
Makna nasi tumpeng sendiri bisa ditemukan pada menu makanannya. Ada lima bahan makanan yang memiliki makna simbolis, dan bahan dasarnya yaitu nasi.
Selain sebagai fondasi utama, nasi pada tumpeng juga punya makna filosofis. Maknanya adalah simbol untuk harapan hidup lebih baik. Bahan tumpeng itu juga bermakna agar tiap manusia mendapatkan rezeki dengan cara halal. Termasuk rezeki rohani harus dicapai dengan cara halal.
Yang sering terjadi, ada tanda, bahwa manusia lebih menguruk diri dengan ‘ubo rampe’ (lauk pauk) dan abai dengan fondasinya (nasi).
Maka, melalui festival atau lomba tumpeng itu, (berbaik sangka ya…) panitia ingin meletakkan momentum haul ke 33 ini sebagai ajakan bagi semua warga Sanberna untuk kembali “eling marang sangkan paraning dumadi”, kenapa Sanberna ada dan diizinkan untuk terus ada.
Kuncup bunga itu sudah mekar dan darinya dinanti buah-buah segarnya.
Salam sehat dan ‘long life Sanbernaku’.
…
Jlitheng

