Oleh: Peter Suriadi
Pasangan pengantin baru Cole dan Anna Stevens menerima berkat pribadi dari Paus Leo untuk pernikahan mereka dalam Audiensi Umum di bawah terik matahari musim panas Kota Vatikan pada tanggal 11 Juni 2025, hanya empat hari setelah pernikahan mereka di Gereja Katedral Santo Paulus, Birmingham, Alabama, Amerika Serikat.
Momen tersebut jadi percakapan intim yang tidak terduga dengan Paus asal Amerika Serikat tersebut, yang menanggapi dengan hangat pertanyaan mereka tentang cara terbaik untuk berdoa bersama sebagai suami-istri.
“Pertama-tama, melakukannya secara perlahan dan menemukan gaya doa yang sesuai untuk diri dan spiritualitasmu sangat penting,” jawab Paus Leo dalam Bahasa Inggris.
“Orangtua saya berdoa Rosario bersama sepanjang hidup mereka setiap hari,” kata Paus. “Saya merasa, bahwa saya selalu diberkati oleh kasih sayang mereka satu sama lain dan iman mereka kepada Allah … Suatu hal yang luar biasa.”
Keluarga Stevens, yang sekarang tinggal di Pensacola, Florida, menghadiri Audiensi Umum yang dipadati umat dengan mengenakan busana pengantin, tidak yakin, apakah mereka akan mendapat kesempatan untuk bertemu Paus. Mereka adalah satu satu dari sekitar 65 pasangan pengantin baru di Lapangan Santo Petrus hari itu yang menerima berkat ‘sposi novelli’ dari Paus, sebuah kesempatan yang ditawarkan Vatikan setiap pekan kepada umat Katolik dalam waktu enam bulan setelah pernikahan mereka.
“Kami berdoa Rosario sambil menunggu audiensi (dimulai), karena kami berada di lapangan sejak pukul 8 pagi,” kata Cole. “Pertanyaan yang benar-benar muncul di hati saya saat kami berdoa Rosario (adalah), bagaimana kami dapat memperdalam iman kami, kehidupan doa kami dalam pernikahan kami?”
Anna mengingat, bagaimana Paus Leo menanggapi pertanyaan Cole seolah-olah tidak ada orang lain di antara kerumunan umat saat itu.
“Tidak ada nada tergesa-gesa dalam bicaranya. Tidak ada pandangan ke sekeliling… Ia hanya fokus pada pertanyaan yang diajukan Cole dan kemudian, bagaimana ia dapat menjawabnya dengan kemampuan terbaiknya,” kata Anna.
Setelah bertukar pikiran, suami-istri itu memberikan Paus kartu doa pernikahan mereka. “Kemudian kami meminta berkat pribadinya, yang diberikannya kepada kami … menumpangkan tangannya atas kami dan memberkati kami.”
“Ia hanya memercayakan kami kepada Keluarga Kudus,” imbuh Anna, “Mendoakan kami agar Keluarga Kudus sudi menjaga, melindungi, membimbing, dan memimpin kami.”
Tanpa sepengetahuan Paus Leo, Cole telah memegang relikui Keluarga Kudus — kain yang menyentuh tongkat Santo Yusuf, kerudung Bunda Maria, dan palungan Yesus, ketika ia memberkati mereka.
Cole, 24 tahun, yang berasal dari Colorado, dan Anna, 25 tahun, seorang guru sekolah yang berasal dari Birmingham, Alabama, bertemu pada kencan buta, ketika Cole sedang menempuh pendidikan magister di Universitas Alabama.
“Sahabat baik saya di sekolah menengah bertemu Cole dan bertanya pada Cole tipe perempuan seperti apa yang disukainya,” kata Anna. “Cole menyebutkan ‘seorang pebola voli Katolik’ dan ia berkata, ‘Baiklah, saya punya seorang perempuan untukmu.’ Sayalah perempuan itu.”
“Saya bermain bola voli di perguruan tinggi dan saya adalah salah satu teman Katoliknya. Begitulah awalnya kami berteman.”
Hubungan mereka tumbuh melalui panggilan telepon jarak jauh dan kunjungan antarkota di Alabama. “Ia mengajak saya ke kapel (adorasi) pada kencan ketiga kami,” kenang Anna. “Di sanalah ia melamar saya dua tahun kemudian.”
Mereka berdoa Novena bersama selama 90 hari menjelang pernikahan mereka — kepada Santo Yusuf, Bunda Maria dari Lourdes, dan Keluarga Kudus.
Bulan madu mereka, yang awalnya direncanakan di Pantai Amalfi, berubah jadi kejutan, ketika mereka menyadari Vatikan menawarkan berkat khusus bagi pasangan pengantin baru. “Kami sedang mencari tempat di Sorrento dan jaraknya sekitar dua jam perjalanan,” kata Anna. “Mengapa kami harus melewatkan Tahun Yubileum dan Pintu Suci? Lalu, ketika kami mendengar tentang ‘sposi novelli,’ kami sepertinya harus pergi.”
Itulah pertama kalinya Cole ke luar negeri. “Tidak ada pengalaman lain dalam hidup saya yang dapat saya ingat dan katakan, bahwa itu benar-benar mengubah hidup dan sangat mengagumkan pada saat yang bersamaan,” katanya saat bertemu Paus Leo.
Setibanya kembali di Pensacola, Florida, nasihat Paus Leo telah membentuk rutinitas suami-istri muda itu. “Lucu sekali,” kata Anna. “Di penghujung malam, kami seperti ini, ‘Ya ampun, kami belum berdoa Rosario. Kami harus berdoa; Paus Leo juga menyuruh kami berdoa rosario.’ Jadi, kami melakukannya.”
“Tujuan baru kami sekarang adalah setelah makan malam kami pergi jalan-jalan dengan Rosario setiap malam dan itu telah jadi salah satu bagian favorit kami di malam hari,” kata Anna. “Sangat damai. Biasanya saat itu menjelang matahari terbenam.”
“Kami menggunakannya sebagai kesempatan untuk mendoakan intensi kami masing-masing sepanjang pekan,” tambah Cole.
Anna, yang merenungkan nasihat Paus Leo, mengatakan pentingnya berusaha “menemukan, seperti yang dikatakan Paus Leo, cara yang cocok untukmu. Jadi bagi kami saat ini dengan tahapan kehidupan kami, ini adalah jalan Rosario. Setiap suami-istri akan memiliki tahapan dan kehidupan yang berbeda serta bagaimana mereka dapat berdoa Rosario bersama.”
Yang paling membuat Cole terkesan dengan nasihat Paus Leo adalah penerapannya. “Saya terkejut betapa nyata nasihat itu… Sangat praktis dalam arti, inilah yang dilakukan orangtua saya. Saya dapat menggunakan dan mensyukuri atas nasihat ini.”
Bapak Peter Suriadi

