“Setiap kali napak tilas peziarahan hidup ini, saya selalu menemukan keajaiban-Nya.” -Mas Redjo
Saya dituntut tidak sekadar berjiwa besar, tapi sadar diri untuk hidup ikhlas.
Intinya saya tidak mengedepankan emosi, tapi mengedepankan hati. Untuk menerima peristiwa dalam hidup ini penuh syukur sebagai anugerah-Nya.
Awalnya adalah saya merasa sulit, kesulitan sekali untuk merespon peristiwa itu dengan baik, bijak, dan memahaminya.
Ketika saya cepat bereaksi dan negatifan, saya melihat semua jadi minus. Yang ada adalah semua itu kesalahan semata, buruk, dan jelek. Saya mudah korslet dan salah paham. Akibatnya, saya emosian, gampang marah, kecewa, tersakiti, sedih, nelangsa, dan hati ini terluka.
Berbeda hasilnya, ketika peristiwa itu direspon dengan baik, tenang, dipikir jernih, dan dilihat hanya pada hal-hal yang positif.
Saya tidak lagi menemukan hal-hal buruk, kelemahan, atau kekurangan mereka. Tapi saya menemukan hal-hal yang baik, menginspirasi, dan memotivasi saya untuk jadi makin baik lagi.
Dengan memahami mereka, saya jadi pribadi yang sabar, tabah, dan rendah hati.
Dengan napak tilas untuk melihat peziarahan hidup sejak kecil hingga di senja usia ini, saya merasakan, bahwa hidup ini adalah keajaiban dan anugerah Tuhan.
Napak tilas yang membuat saya sadar diri dengan tujuan hidup ini. Untuk tidak menjual hidup ini demi materi dan kenikmatan dunia, tapi hidup untuk mengabdi dan melayani Tuhan. Karena kita adalah alat-Nya.
Mas Redjo

