Sesekali coba untuk direnungkan, dirasakan, dan dibandingkan, jika hidup ini tidak diisi dengan doa. Karena kita menutup hati tanpa doa. Apa yang terjadi dan kita rasakan?
Maaf, jika boleh menjawab, yang saya bayangkan adalah kengerian semata. Hidup tanpa doa dan tanpa Allah adalah lorong gersang tak berujung, panas kerontang tak ada kehidupan, tersiksa, dan menderita.
Saya tidak mau terlalu jauh untuk membayangkan, apalagi berlarut-larut untuk merasakannya.
Bagimana tidak. Ketika sehari tanpa doa, hidup saya serasa hambar dan perasaan ini jadi tidak karuan.
Tidak hanya gelisah, tapi juga resah dan tidak tenang. Tidak hanya was-was, tapi ada kekhawatiran dan hilang rasa percaya diri ini.
Bahkan lebih dahsyat lagi adalah saya kehilangan semangat hidup. Orang yang tanpa iman, harapan, dan kasih itu diibaratkan orang yang sekadar hidup, bahkan tidak miliki arah dan tujuannya. Hidup tanpa masa depan. Miris!
Sebaliknya, jika hidup diibaratkan sebagai nafas doa.
Saya merasakan kedekatan dengan Allah yang luar biasa. Setiap tarikan dan hembusan nafas ini adalah anugerah dan mukjizat-Nya.
Ketika hidup ini diarahkan sebagai ungkapan syukur kita pada Allah berarti hidup itu api semangat yang senantiasa menyala dan berkobar!
Ketika hidup ini sebagai ungkapan syukur kita pada Allah.
Ungkapan syukur sebatas doa kita di mulut atau diwujudkan untuk mengabdi, melayani, dan memuliakan Allah.
Coba direnungkan, dirasakan, dan dinikmati.
Karena Anda yang menjalaninya dan bertanggung jawab atas hidup Anda sendiri.
Mas Redjo

