Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Betapa banyak orang yang ingin memiliki ilmu, tapi betapa sedikit orang yang rela bersusah payah untuk mendapatkannya.”
(Juvenal)
…
Kekaguman Melahirkan Sikap Penasaran
Jika Anda bersungguh-sungguh ingin mendapatkan hikmah kebijaksanaan, mari ikutilah sebuah proses dialogis berikut ini dengan saksama!
‘Syekh Junaid’ (SJ) sangat dikenal dan dipandang sebagai Sultannya para Sufi. Maka, sungguh tak heran jika pada suatu kesempatan ‘Asy-Syibli’ (AS) pun sudi datang kepadanya karena ingin tahu, apa rahasia hikmat beliau, sehingga ingin berguru kepadanya.
Ketika keduanya bertemu, maka tak segan AS memujinya, karena ilmunya yang luas bagaikan samudra, sedang perkataannya amat bernilai laksana mutiara. Namun SJ hanya terdiam. Akhirnya AS pun bertanya.
Dialog Kerinduan
“Sudikah Tuan memberikan mutiara kebijaksanaanmu kepadaku?”
“Jika kuberikan secara gratis, aku khawatir kau tak akan menyadari betapa tinggi nilainya.”
“Jika demikian, juallah kepadaku?”
“Jika kujual padamu, aku khawatir kau tak akan sanggup membelinya dengan harga yang sesuai.”
“Jika demikian, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkannya?”
“Selamilah samudra. Jika kau menyelaminya dengan kesabaran, niscaya akan kau dapatkan mutiaramu.”
(Berguru pada Saru)
Sungguh bermakna dan menakjubkan isi dialog antara keduanya. Di balik isi dan amanat singkat dari dialog ini, terkandung pula rasa penasaran serta kekaguman (AS) pada tokoh (SJ) yang dipandang mulia dan bijaksana.
Kebijaksanaan itu sungguh Memikat
Tak ingin disia-siakan rasa penasaran dan kerinduannya untuk memiliki kebijaksanaan, maka AS tidak mundur atau kecewa atas aneka jawaban dari SJ yang terkesan menantangnya. Dia benar-benar ingin memiliki mutiara kebijaksanaan itu.
“Jika demikian, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkannya?” Inilah model pertanyaan yang sarat dengan rasa penasaran dan kekaguman.
Di sisi lain, sang bijaksanawan sejati tidak mudah tergoda dan terpancing dengan rengekan murahan. Dia, bahkan lewat cara arifnya, justru balik bersikap menantang lewat jawabannya.
“Selamilah samudra. Jika kau menyelaminya dengan kesabaran, niscaya akan kau dapatkan mutiatamu.” Inilah model sebuah jawaban paling arif.
Kepada AS ditawarkan, agar ia berani untuk menyelami samudra. Artinya, dia harus berani untuk terus belajar dan bergiat untuk mencari. Bahkan SJ rela menyodorkan sebuah strategi sebagai rahasia sukses, ialah bersikap ‘sabar.’
Sang Pencari Sejati Pantang Menyerah
Sesungguhnya, bagi sang Pencari sejati tak pernah boleh ada istilah ‘menyerah.’ Dia bersikap pantang untuk menyerah.
Konklusi
Semoga, kita terus belajar untuk menyadari, bahwa betapa sakitnya proses terjadinya sebutir mutiara di dasar samudra hati!
…
Kediri, 18 Oktober 2024

