“Murid sejati itu rela melepaskan segalanya, sebab dalam Kristus, kita menerima semua yang abadi.”
Dalam kerahiman Allah, Ia mengutus Yesus Putra-Nya, Sang Kebijaksanaan, yang datang dari Surga. Tanpa Roh-Nya, kami akan tetap terikat pada perkara dunia dan tidak mampu memahami rencana keselamatan-Nya. Tapi di dalam Dia, jalan kami diluruskan, dan hati kami diajar menghitung hari dengan bijaksana.
Yesus menegaskan: bila kami ingin mengikuti-Nya, kami harus mengasihi Dia lebih dari segalanya, lebih dari ikatan keluarga, harta milik, bahkan hidup kami sendiri. Ia mengajak kami memanggul salib, bukan sebagai beban sia-sia, melainkan sebagai tanda setia berjalan bersama Dia menuju kehidupan. Salib itu bukan akhir dari penderitaan, melainkan pintu menuju kebangkitan.
Seperti Onesimus dalam surat Paulus, kami juga ditebus dari perbudakan dosa. Kami tidak lagi ditentukan oleh masa lalu, melainkan diterima sebagai anak-anak Bapa dan saudara dalam Kristus. Injil sungguh mengubah kami: mendamaikan relasi, memulihkan martabat, dan mengajarkan kami untuk melihat sesama itu bukan dengan ukuran duniawi, melainkan sebagai yang terkasih di dalam Tuhan.
Tuhan, kami akui, bahwa melepaskan rasa aman, harta, kebanggaan, bahkan relasi baik itu tidak mudah. Tapi Engkau memanggil kami pada kebebasan sejati: hati yang penuh kemurahan, kasih untuk merangkul yang miskin dan terlupakan, serta hidup seorang murid yang membangun Gereja sebagai komunitas kerahiman.
Bapa, saat kami bersiap menyambut Ekaristi, jadikan hati kami memilih Yesus di atas segalanya. Karena kasih setia-Nya memenuhi hari-hari kami, kebijaksanaan-Nya menuntun langkah kami, dan salib-Nya membentuk kasih kami.
Bapa, kami percaya, bahwa dengan kehilangan segalanya demi Kristus, kami memperoleh hidup yang tak akan pernah pudar.
“Yesus, Engkaulah andalanku.” Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

