“Murah hati dan ikhlas itu membuka pintu rezeki.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Sederhana dan tanpa alasan. Jika ingin murah rezeki hendaknya kita berlaku murah hati lebih dulu, dan ikhlas.
Kredo itu saya percayai dan imani. Karena kemurahan Tuhan itu tanpa sekat dan tiada akhir.
Saya tidak hanya melihat realita itu, tapi juga mengalami sendiri. Hikmat Tuhan itu luar biasa, asal kita peka, peduli, dan bersikap rendah hati untuk berbagi.
Saya mendengar obrolan santai di kedai kopi CBD antar sopir grab, sebut saja A dan B. A menarik grab dengan santai dan membatasi diri hanya melayani rute atau jarak dekat. Alasannya, rute jauh sering macet, apalagi pada jam sibuk dan potongan aplikasinya besar. Belum lagi, jika pulangnya tidak ada penumpang alias kosong, dan itu rugi. Rezekinya jadi pas-pasan.
Berbeda dengan B. Ia tidak membatasi diri. Rute jauh atau dekat, ditarik. Tidak untuk mengejar bonus, tapi targetnya sendiri yang harus dicapai. Ia tidak takut, jika narik rute luar kota malam hari, dan pulangnya kosong. Ia stil yakin, percaya diri, dan mohon penyertaan Tuhan. Rezeki itu selalu mendatangi orang yang mengandalkan-Nya.
“Puji Tuhan, menginjak tahun ke 3 ini tambah kredit mobil lagi jadi 3. Semoga membantu teman yang niat kerja dan ingin maju,” tegas B. Karena ingin maju dan hidup layak itu sepulang ibadah Gereja, ia lalu narik. Ia minta pengertian istri dan anaknya untuk prihatin dulu, serta mohon berkat doa mereka.
Nasib B mirip dengan saya, ketika merintis untuk membangun dan mengembangkan usaha. Fokus untuk mewujud-nyatakan target demi target. Pelanggan kecil dan besar dilayani dengan hati. Saya tidak mau membatasi potensi diri dan pilih-pilih rezeki.
Dari pengalaman, mata ini sering tertipu oleh penampilan sederhana orang lain. Ternyata mereka itu bos yang bersahaja, bahkan lebih sukses dibandingkan dengan kita.
Tiba-tiba saya diingatkan dengan nasihat bijak untuk tidak lupa diri, karena pujian, janji semanis madu, atau yang memanjakan selera duniawi.
“Karena akan tiba waktunya orang tidak mau lagi mendengarkan ajaran benar. Mereka hanya mencari guru-guru yang mengajarkan hal-hal yang enak didengar saja, yaitu yang sesuai dengan selera mereka” (2 Tim 4: 3).
Tidak ada yang mustahil, ketika kita mau mengeksplorasi potensi diri dan mengandalkan Tuhan untuk hidup baik, dan makin baik lagi.
Mas Redjo

