| Red-Joss.com | Ketika Nabi Elia pergi ke Sarfat, ia diberi makan dan minum oleh seorang janda. Pada awalnya, tidak mudah untuk memberikan makanan kepadanya, tapi karena kata-kata Nabi Elia, janda itu lalu melakukannya. Janda itu mendapatkan berkat yang melimpah.
“Apakah kita juga memiliki sikap yang murah hati?”
Jika jawaban kita, “Iya”, marilah berkata bersama-sama dengan Pemazmur, “Pujilah Tuhan, sebab Dia baik”.
Sesungguhnya Tuhan yang meletakkan sikap murah hati itu di dalam hati kita.
Begitu pula dengan cerita yang lain tentang seorang janda miskin yang berderma dari keikhlasan hatinya. Kemurahan hati janda miskin yang dipuji oleh Yesus.
Pertanyaannya: Apakah kita ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan janda miskin ini? Kapan, di mana, untuk siapa, dan untuk apa?
Jika jawaban kita adalah: “Iya.” Mengapa? Karena kita memiliki sikap yang murah hati. Tuhan yang meletakkan sikap rendah hati itu di dalam hati kita.
Apakah ketika kita memberi, lalu menjadi miskin dan membuat kita tidak bahagia? Jawabannya: “Tidak.”
Saya melihat:
- Banyak orang yang setelah memberi, kemudian mendapatkan berkat yang lebih banyak.
- Setelah memberi, kita menjadi kaya di mata Tuhan.
- Setelah memberi, kita menjadi pribadi yang sangat berbahagia. Karena kita adalah pribadi-pribadi yang bersukacita. Bahagia, karena murah hati.
Mari berkata lagi bersama Pemazmur, “Pujilah Tuhan, sebab Dia baik.” Mengapa? Karena Dia yang meletakkan sikap yang murah hati itu di dalam hati kita.
Tuhan memberkati.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

