“Menghidupi tradisi mudik itu tujuannya agar kacang tidak lupa kulitnya; sekaligus ingatkan kita agar tidak lupa mudik ke jatidiri.” -Mas Redjo
Karena tanpa direfleksikan, hidup ini tidak layak dihidupi. Bahkan, ketika kita melupakan jatidiri sendiri, hal itu aib dan tragis!
Seberapa dalamnya ilmu dan hasil pencapaian diri ini, hendaknya kita tetap sadar dan tidak lupa dengan asal usul sendiri. Bahkan, meskipun kita telah tinggal dan bermukim puluhan tahun di negeri orang. Kita tetap sederhana dan rendah hati.
Kita tidak harus malu dan gengsi, lalu menutupi wajah dan melupakan asal usul serta adat budaya sendiri, karena ingin menggunakan topeng asing agar ben-diarani.
Saya juga tidak malu, meskipun hampir setengah abad tinggal di kota besar, tapi tidak lupa dengan adat budaya daerah. Dibilang Jawa kowek, medok, dan ledekan konyol lainnya. Sebaliknya fakta itu makin mengakrabkan kami.
Hubungan dengan para cerdik pandai dan suku bangsa lainnya juga tidak membuat saya jadi seperti mereka yang bergaya hidup kebarat-baratan atau ketimur-tengahan.
Saya bangga dengan adat budaya bangsa sendiri dan jadi bagian dari mereka!
Jika berada di tengah keluarga atau bertemu orang yang sesuku, saya lebih dominan berbincang dengan bahasa daerah. Resepnya adalah kita harus pandai membawa dan menempatkan diri. Tapi tetap harus menempatkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan!
Tradisi mudik kampung itu harus dihidupi, karena kami mewarisi dan ingin membudidayakan silaturahmi. Sungkem orangtua, yang dituakan, kerabat, dan mengunjungi sahabat. Tujuannya agar kami tidak ‘kepaten obor’ alias putus hubungan perseduluran dengan mereka yang tinggal di kampung. Dengan tilik kubur, saya mendoakan mereka yang telah wafat itu agar bahagia di Surga.
Mudik ke kampung dan kembali ke jatidiri itu harus dihidupi agar obor di hati kita tidak padam digerus zaman.
Mas Redjo

