“Do not block exit, live, work, and create.” – Rio, Scj.
…
| Red-Joss.com | Sulit memang untuk melupakan dan melepaskan mantan, meski hubungan sudah usai. Karena masih mengenang nostalgia masa lalu, hingga terasa berat, menyesal, sedih, kecewa, sakit hati yang berujung pada tangisan dan derai air mata. Tapi ‘move on’ adalah pilihan dan keputusan.
Marriam Webster mengartikan ‘moving on’ sebagai tindakan meninggalkan suatu tempat untuk pergi ke tempat lain. Dalam konteks relasi, ‘moving on’ berarti meninggalkan hubungan yang tidak berhasil, untuk melanjutkan hidup yang lebih baik, damai, dan bahagia.
Meski ‘move on’ itu pilihan dan keputusan. Faktanya banyak orang yang terjebak dalam nostalgia yang membuat galau, sedih perih berkepanjangan, tak bersemangat menjalani hidup, dan diliputi derai air mata. Bicara ‘move on’ itu mudah, tapi faktanya sulit untuk menjalaninya. Studi terhadap kasus ini menunjukan, bahwa patah hati mengaktifkan stimulus di otak sama seperti dialami oleh pecandu yang sakau saat mereka stop menggunakan narkoba. Seseorang yang sakau patah hati akan mengingat kembali kenangan indah dengan mantan seperti seorang pecandu kembali menggunakan narkoba. Bedanya pecandu sadar, tapi orang patah hati tak sadar, ia kecanduan kenangan indah itu. Inilah masalahnya, sulit untuk ‘move on’.
Strategi jitu untuk berhasil ‘move on’:
Pertama: putus kontak. Memang orang yang berhati baik selalu mencoba berteman dengan mantan sebagai cara menjaga komunikasi. Bijak memang, namun sebenarnya hanya memelihara kebingungan, galau, dan hidup dalam nostalgia. Berteman tetap mungkin, bila ada kedewasaan dan kedua belah pihak sudah sembuh dari luka. Padahal untuk sembuh itu membutuhkan waktu…
Kedua: cintai diri. Hal ini tidak berartu ego, tapi berani ke luar dari belenggu patah hati. Tujuannya agar hati ini makin tentram dari proses penerimaan diri, keadaan, dan situasi. Karena Anda pantas bahagia.
Ketiga: terima alasan putus sepenuhnya. Lepaskan dengan ikhlas, tidak ada gunanya lagi meratapi, karena hanya perpanjang drama sakit hati.
Keempat: stop nostalgia. Menyimpan pesan, melihat foto, kenangan, dan lain-lain. Karena hal itu membuat kita sulit untuk ‘move on’.
Buat daftar hal buruk tentang mantan. Hal ini tidak berarti untuk membenci, tapi untuk melatih kesadaran dan logika hati. Hal ini penting untuk mulai menata diri, melihat realita dan kenyataan. Tidak hidup dalam nostalgia dan impian. Meski banyak hal positif dan banyak kenangan indah, tentang mantan, tapi untuk melupakan itu tidak berarti menghilangkan.
Jadikan peristiwa itu sebagai pembelajaran diri. Yakinlah ada kebahagiaan yang lebih besar yang Tuhan sediakan.
Kelima: buka lembaran baru. Pengalaman patah hati itu tidak akhir segalanya. Saatnya kita membangun kembali identitas jati diri. Isilah hari-hari dengan hal yang positif, perluas relasi, dan kreasi. Perkaya kualitas diri, jangan khawatir hal baik akan kita dapatkan lagi dan alami. Bahkan Tuhan menyediakan hal yang lebih istimewa dan berharga untuk kita.
Ingatlah, ketika Tuhan mengatakan tidak, bukan berarti menolak. Melainkan menunda, karena yang lebih baik dan indah telah disediakan. Jauh lebih baik dari apa yang diminta. Ketika Tuhan mengatakan, ya, itu tanda hidup dan permintaan kita selaras dengan kehendak-Nya. Ketika Tuhan mengatakan tunggu, berarti ada hal indah dan baik dipersiapan untuk kita.
Jalani hiduplah saat ini, tidak demi masa lalu atau masa depan. Karena masa lalu itu hidup dalam nostalgia, masa depan berarti hidup dalam impian.
Tetaplah semangat dan bahagia.
Deo gratias.
…
Edo/Rio, Scj

