Kuberikan yang terbaik, tapi balasanmu tidak baik.
Kutunjukkan yang terbaik, tapi kamu memilih yang tidak baik.
Kukatakan yang terbaik, tapi kamu meneruskan kata-kata yang tidak baik.
Kunasihatkan yang terbaik, tapi kamu memutuskan melakukan yang tidak baik.
Karena itu hatiku bergetar. Ternyata tidak semua yang terbaik itu bisa diterima dengan baik.
Orang mudah mengatakan, “kamu baik.” Tapi setelah dikecewakan oleh orang yang dipuji itu, dari mulut yang sama mengatakan, “dia tidak baik.” Tapi tidak langsung ke orang yang bersangkutan.
Berubah! Ya, berubah! Karena dikecewakan, dibuat tidak bahagia, dan merasa salah memilih teman. Dulu adalah teman dekat, sekarang teman yang jauh. Bahkan berubah jadi musuh.
Tidak berhenti di situ, hatiku bergetar, karena aku memberikan yang terbaik itu dilupakan. Mengapa bisa? Jawabnya adalah karena aku tidak menguntungkan, dan lebih jadi penghalang kebahagiaannya.
Jika diteruskan, hati ini terus bergetar, karena banyak hal yang tidak bisa aku terima.
Meskipun demikian, tetap yakin, bahwa kebaikan itu ada manfaatnya dan oleh adanya kebaikan itu, orang yang tersentuh hatinya akan mengatakan, “kamu tetap orang yang baik dan tidak pernah berhenti berbuat baik.”
Apa motivasinya melakukan kebaikan? Jawabnya adalah karena Tuhanku sangat baik. Kebaikan Tuhanku itulah yang ingin kubagikan kepadamu.
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

