Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Inermis est Veritatis, Arma Veritatis Veritas“
“Kebenaran tidak Miliki Senjata, Senjata Kebenaran adalah Kebenaran”
(Semboyan Romawi Kuno)
Apakah Moralitas itu?
Moralitas, secara etimologis, berasal dari kata ‘mos atau mores’
(Latin), yang bermakna ‘adat atau kebiasaan atau juga perilaku’. Jadi, moralitas adalah prinsip dan nilai-nilai yang menata perilaku manusia dalam membedakan hal yang baik dan buruk serta benar dan salah.
Moralitas juga sebagai pedoman bagi individu untuk membuat keputusan dan bertindak dengan memperhitungkan dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.
Dalam konteks yang lebih luas ini, ‘moralitas’ itu adalah ‘kesadaran serta tanggung jawab’ individu untuk melakukan hal yang benar dan menghindari hal yang salah.
Antara Genghis Khan Versus Yesus Kristus
Pada 19 Maret 2006, dalam konferensi pers setelah eskalasi operasi Roaring Lion terhadap Iran, Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyampaikan pernyataan yang jadi viral: “Sejarah membuktikan, bahwa sayangnya dan dengan berat hati, Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, kejam, berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi,” demikian Darwin Darmawan, Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), dalam Opininya: Renungan Paskah, “Paskah di Tengah Disorientasi Moral.” Kompas, Kamis, (2/4/2026).
Darwin Darmawan berpendapat, bahwa Netanyahu telah menggemakan sebuah pandangan lama dari sejarahwan Will Durant: bahwa dalam sejarah, ‘kekuatan sering kali mengalahkan moralitas.’ Durant mengakui, bahwa nilai-nilai seperti kelembutan, pengorbanan diri hanya menopang secara internal. Karena akan kalah, ketika berhadapan dengan pihak luar yang kejam, kuat, dan agresif, komunitas yang menghidupi kasih kerap berada di posisi rentan dan terancam musnah, demikian Darwin Darmawan.
“Mengunggulkan Genghis Khan ketimbang Yesus Kristus justru menunjukkan sebuah krisis moral. Orang yang meyakininya justru telah kehilangan dasar dan arah tentang apa yang baik dan benar, tentang apa yang bermakna dan layak diperjuangkan. Demikian Darwin Darmawan.
Darmawan sempat mengutip pandangan Hans Kung (2005), bahwa ‘krisis moral adalah radiks dari berbagai krisis lain. Di tengah situasi itu, iman Kristen justru menawarkan cara hidup untuk mengatasi krisis moral. Melalui teladan Yesus, kita manusia diajak untuk mengasihi melampaui kepentingan pribadi, bahkan hingga rela mengorbankan diri.
Melalui Jalan-jalan Penderitaan hingga ke Puncak Paskah nan Jaya
Seneca, sejarahwan Romawi Kuno, menawarkan adagium, “Per aspera ad astra,” “Melalui bebatuan sampai ke bintang.” Artinya kemenangan, kemuliaan, dan keagungan itu akan diperoleh, justru lewat jalan-jalan penderitaan (Post nubila lux).
Lewat jalan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah Raya Yesus Kristus justru mau mengundang kita untuk menafsirkan kembali ‘makna kekuasaan’ itu. Bahwa kuasa itu, bukanlah dasar untuk mendominasi, menundukkan, apalagi membinasakan. Sebaliknya, kuasa adalah power untuk menyelamatkan lewat pengorbanan diri bagi sesama.
Menilik pada prinsip luhur nan mulia ini, seruan Benyamin Netanyahu, sesungguhnya hanyalah sebungkus pepes melompong belaka.
Karena pengaruh Yesus Kristus itu justru melintasi dan melampaui zaman, karena daya tarik moralnya.
Refleksi
- Yesus tidak mempunyai senjata, tapi Ia menaklukkan hati lebih banyak daripada para pemimpin perang menaklukkan dunia.
- Yesus tidak meninggalkan tulisan, tapi Ia menggerakkan jutaan tangan untuk menulis tentang-Nya.
- Yesus tidak mempertahankan diri, tapi Ia menyerahkan Dirinya sendiri.
- Justru karena itu, karya-Nya menginspirasi di tengah dunia yang mengagungkan kekuatan.
“Vitam Impendere Vero“
“Mengorbankan Kehidupan demi Kebenaran”
(Juvenalis)
…
Kediri, 4 April 2026

