“Diuji agar kita makin rendah hati untuk memahami rencana Tuhan.” -Mas Redjo
Saya melongo mendengar kisah seorang Romo, E yang sedari kecil ingin jadi Romo, tapi tidak diizinkan oleh Ibunya. Padahal Ibu dan Ayah E adalah aktivis Gereja.
E juga tidak tahu, alasan orangtua melarang. Ia merasa terpukul dan sedih. Karena selama ini ia selalu mewujudkan permintaan Ibunya.
Ketika E ingin masuk Seminari Menengah, Ibunya meminta agar ia lulus SMA dulu, tapi selalu menunda dan menunda lagi. Bahkan hingga ia lulus dari Fakultas Kedokteran, dan praktek.
“Sesungguhnya, apa yang Ibu harapkan dan inginkan dari saya,” gumam E seperti ditujukan pada diri sendiri. Ia tetap tenang dan sabar, tapi hati ini serasa diremas, dan sakit. Untuk kali ini keinginan hidup membiara itu tidak bisa dibendung lagi. Yesus tersenyum padanya seperti memanggilnya.
Ibu itu diam, merasakan getaran hati anaknya yang tidak pernah membantah, ingin memberi yang terbaik dan membahagiakannya!
“Mohon izin dan restu, Ibu. Dalem mau melayani Gusti Yesus.”
Ibu itu terhenyak ditenggelamkan ke lorong keharuan nan sunyi. Ia tidak mampu menahan deraan jiwa yang membuat dadanya berguncang hebat. Dipeluknya E, dan menangis.
E memperoleh kelegaan jiwa, ketika akhirnya Ibu merestui, mengizinkan ia untuk hidup membiara. Ia tidak menyesal menuruti permintaan Ibu, tapi sebaliknya ia berusaha untuk memahami rencana dan kehendak Tuhan atas hidupnya.
E akhirnya ditahbiskan jadi Romo. Semula ia berkarya di Paroki baru. Tapi Bapak Uskup melihat CV yang dokter, sehingga ia dipindahkan ke suatu RS milik yayasan untuk menangani HIV-AIDS.
Mas Redjo

