| Red-Joss.com | Maaf, tidak berarti kurang percaya diri, tidak mau atau malas berdoa. Tapi sadar diri, bahwa saya lemah dan banyak kekurangan. Dengan didoakan orang lain, atau saling mendoakan itu berarti kita saling memberkati.
Sesungguhnya, kita diajak untuk sadar diri dan memahami, bahwa mendoakan orang lain itu bagian dari pemberian diri ini. Semangat berkorban untuk membahagiakan sesama.
Sesungguhnya, mendoakan orang lain itu juga bermanfaat untuk diri sendiri. Kelak, ketika meninggal kita tidak bisa berdoa untuk diri sendiri. Di Purgatorium (Api Penyucian), kita mohon (dikirimi) doa orang lain, sebelum menghadap Allah.
Mohon didoakan orang, atau saling mendoakan itu meneguhkan satu dengan yang lain. Sekaligus juga menyatukan jiwa kita dengan Allah Sang Pencipta. Bahkan, “doa orang benar bila dengan yakin didoakan sangat besar kuasanya” (Yakobus 2: 16).
Saya ingat kisah St Monika, wanita saleh dan sabar. Ia mendoakan suaminya yang kasar dan pemarah itu agar mengubah perilakunya. Sehingga jadi orang Kristen yang taat. Begitu pula dengan puteranya, St Agustinus yang menjalani hidup tidak sesuai dengan iman Kristen itu
lalu bertobat, dan menjadi seorang teolog terkenal dalam sejarah gereja.
Jujur, sesungguhnya banyak faktor, alasan saya minta didoakan. Tapi yang utama dan pertama adalah saya ini lemah, banyak kekurangan, dan mudah jatuh ke dalam dosa.
Didoakan itu sungguh meneguhkan jiwa. Apalagi, jika didoakan oleh 2-3, atau banyak orang secara bersamaan. Sehingga Kristus hadir untuk sertai dan dampingi kita. Doa kita pun jadi nyata.
Hidup saling mendoakan itu anugerah, karena saling mengasihi. Sekaligus kita menghadirkan kasih Allah untuk memenuhi jiwa ini agar hidup damai dan bahagia.
Maaf, jangan lupa untuk saling mendoakan dan memberkati. Karena kita saling mengasihi dalam Kristus.
…
Mas Redjo
…
Foto Ilustrasi: Istimewa

