-Menikmati kebersamaan itu dari hati untuk merasakan kebahagiaan sejati.” -Mas Redjo
Pengalaman ditelikung pabrik itu terus berulang kembali, tapi saya menanggapi hal itu tanpa emosi atau tendensi. Saya senantiasa bersyukur untuk berbesar hati dan sabar.
“Silakan, jika kau mau mengambil langsung ke pabrik,” jawab saya sambil tersenyum menanggapi cerita pelanggan yang didatangi ‘sales’ pabrik.
Saya salut padanya. Ia berterus terang dan jujur. Saya juga tidak berprasangka buruk dan jelek. Ia mengambil langsung ke pabrik itu haknya. Bagi saya, persahabatan sejati itu tidak dinilai dari materi semata.
Begitu pula dengan ‘sales’ pabrik yang tidak mempunyai etika bisnis, karena mengambil langganan dari distributornya. Karena sejatinya perilaku kita di luaran itu cerminan hidup keseharian kita di dalam keluarga sendiri.
Saya berhak mengingatkan ‘sales’ itu, tapi tidak memboikot pabriknya. Karena yang bermasalah itu bukan pabriknya, melainkan ‘sales’ itu. Bahkan, meskipun tidak dipercaya oleh pabrik, saya bisa usaha bidang lain.
Saya harus melihat jauh ke masa depan, ketimbang dibebani masa lalu yang dipenuhi iri, kebencian, dan hal negatif lainnya. Hubungan persahabatan dengan pelanggan itu di atas segalanya.
Buktinya, hubungan persahabatan saya dengan produsen rumahan itu dekat dan akrab. Mereka tidak mau pindah ke lain hati, meski dirayu diberi harga murah. Karena kami bermitra baik. Para produsen itu mengambil kemasan dari saya, sedangkan saya menjualkan hasil produksi mereka. Prinsip bisnis “take and give” yang cespleng.
Ternyata saling mengisi dengan bersinergi dalam bekerja sama itu membuat kami makin besar, kuat, dan tangguh!
Mas Redjo

