“Hidup itu bukan hanya tentang diri sendiri, tapi bagaimana kita bisa melayani dan memberi arti.” – Rio, Scj.
Manusia ada bersama dan bagi yang lain. Kemajuan dunia digital memperluas relasi. Tapi tidak jarang yang berakhir dengan benci dan sakit hati. “Kalau dulu mulutmu harimaumu, sekarang jarimu singamu.” Dari jari tangan relasi menjadi retak, hoax, bully, komentar, dan nyinyiran yang membuat relasi teracuni. Benci dan sakit hati pun merusak relasi.
Padahal kualitas relasi dan hubungan menentukan kualitas masa depan. Hubungan kita dengan Tuhan. Hubungan kita dengan keluarga. Hubungan kita dengan siapa saja.
Akankah kita tetap bersyukur dalam segala keadaan, menebar kebaikan, dan hati terjaga dari segala kemarahan? Jangan biarkan emosi membuat segalanya bubar, tapi tetaplah bersabar.
Terbarkan terus kebaikan. Karena orang menebar kebaikan bakal memperoleh kebaikan dan kebahagiaan. Berikan yang terbaik untuk diri ini, orang lain, dan Tuhan. Bagikan waktu, tenaga, perhatian, doa dan hati kita. Kendatipun yang terbaik itu kita berikan sesaat, tapi kebahagiaan itu akan menular.
Ketika kita mau berbagi, justru kebahagiaan yang kita terima jauh lebih besar. Hidup itu bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan bagaimana kita bisa melayani dan memberi arti.
Deo gratias.
Edo/Rio, Scj

