| Red-Joss.com | Kesan pertama, ketika memasuki kamar kos yang berukuran 2,5 x 4 meter itu teramat sederhana. Isinya hanya tempat tidur kayu sederhana. Tapi hal itu saya syukuri. Sekadar untuk tidur dan istirahat.
Ketika membuka jendela berteralis itu, saya mendapati pot bunga yang digantung. Saya melihat kiri kanan, semuanya genting. Timbul sederet pertanyaan di hati. Siapa yang menaruh pot itu dan menyiraminya?
Di lantai atas tempat kos itu semua kamar tidur, sedang kamar mandi di bawah. Tidak mungkin menyiram pot itu mengunakan selang air lalu melewati kamar kos. Menggunakan semprotan juga tidak mungkin, karena terhalang jeruji besi. Lalu, bunga dalam pot itu hanya menunggu datangnya hujan?
Hari pertama menempati kamar itu saya merasakan suasana yang aneh. Apa saya terbawa perasaan?
Ternyata perasaan saya peka dan benar. Ketika saya menaruh cutter untuk memotong naskah yang di-layout (menyusun buku masih manual dan ditempel), cutter itu tidak ada di tempat. Padahal belum lama ditaruh. Apakah saya lupa?
Di meja kayu tempat saya menaruh peralatan juga tidak ada. Begitu pula di tumpukan kertas maupun buku. Alhasil cutter itu saya temukan di keranjang sampah. Mungkin ikut terbuang? Meski penasaran, tapi saya tidak mau banyak pikiran.
Keanehan demi keanehan terjadi, banyak barang yang berpindah tempat. Bahkan gunting yang saya pikir tertinggal di kantor, ternyata saya temukan di bawah kasur. Lalu angin atis berhembus masuk ke kamar, padahal pintu dan jendela tertutup.
Meski merinding, tapi saya tidak takut. Sebaliknya saya makin penasaran, makhluk halus penghuni kamar saya tidak mengganggu, tapi usilan.
Saya lalu mengorek informasi dari teman-teman satu kos, apakah mengalami hal yang sama seperti saya. Ternyata tidak, mereka ganti memandang saya dengan heran.
Saking penasaran, saya mencari info juga pada terangga, terutama orangtua yang telah berdomisili lama di situ.
Dari Bang AA yang jualan nasi uduk itu, saya memperoleh penjelasan, bahwa kamar yang saya tempati itu pernah ditempati famili perempuan si empunya rumah, dan meninggal OD di kamar itu. Lalu rumah itu dijual, dan untuk kos-kosan.
Saya merinding juga tidak. Bisa jadi arwah gadis yang menempati kamar itu. Karena tidak bisa bicara layaknya manusia, ia berbuat usil. Tidak mengganggu atau menakut-nakuti. Ia minta tolong dikirimi doa.
Pulang dari makan nasi uduk, saya membeli lilin untuk sembayang. Malam itu saya mendoakan arwah gadis itu supaya memperoleh ketenangan. Setiap kali berdoa, saya mohon pada Allah agar mengampuni dosa-dosanya.
Sejak saat itu tidak ada lagi barang-barang saya yang berpindah tempat.
Suasana kamar pun semakin nyaman, dan saya pun makin kerasan.
…
Mas Redjo

