Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Manusia, siapakah engkau. Dari manakah engkau datang, dan
hendak ke manakah engkau kelak?
(Tiga Buah Pertanyaan Abadi)
Siapakah Manusia itu?
Sudah sangat banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh dunia, banyak tema yang menggubris tentang dia, dan tidak sedikit pula buku yang menulis tentang misteri dari sang manusia itu.
Bahwa sejatinya, siapakah manusia itu? Sentral dari konteks tulisan ini, ialah tentang salah satu ciptaan yang dikategorikan sebagai ciptaan termisterius.
Tiga Buah Pertanyaan Abadi
Dalam permenungan dan refleksi filosofis disimpulkan, bahwa terdapat “tiga buah pertanyaan” yang sejatinya telah setua usia manusia. Lewat ketiga buah pertanyaan itu, diharapkan seluruh eksistensi manusia itu terjawab. Namun, hingga kini misteri terbesar ini masih meliliti nurani manusia.
- “Manusia, siapakah sesungguhnya engkau?”
- “Manusia, dari manakah engkau datang?”
- “Manusia, hendak ke manakah engkau kelak?”
Makhluk yang Terpental dari Langit
Secara filosofis, konon kabarnya, bahwa ‘manusia itu adalah makhluk yang terpental dari langit ke bumi maya ini, justru tanpa sekehendak hatinya. Dampaknya ia akhirnya terluntah tertatih berziarah di atas tanah terasing ini. Ia sibuk mencari sesuap nasi demi mempertahankan nafas hidupnya.
Filsuf eksistensialis asal Perancis, Gabriel Marsel menjulukinya sebagai si ‘viator mundi’ sang pengembara nan jelata. Yang bersengsara dan sibuk mengais serta mencari nafkah. Ia sangat rindu agar dapat menemukan sebuah jalan menuju kebahagiaanya. Tapi, sesungguhnya, ia belum menemukannya.
Alangkah bersengsara dan merananya makhluk cucu sang Adam ini. Justru mereka kian bersengsara setelah dipental dan terusir dari kebahagiaan taman Eden, karena sifat ingkar janji dan besar kepada mereka yang tidak mematuhi hukum kehidupan.
Manusia itu hanyalah Boneka Garam
Santo Agustinus, Pujangga agung, lewat kerinduannya sempat berucap, “Tuhan, hatiku sungguh tidaklah tenteram, sebelum aku sampai pada-Mu.”
Di sini dan dalam lingkup kerinduan sang Santo ini justru ingin dan terobsesi untuk merengkuh dunia keabadian itu. Sebuah dunia yang telah dijanjikan oleh Sang Penyelamat dunia.
Bahwa “di rumah Bapak-Ku, ada banyak tempat. Aku pun pergi ke sana untuk menyiapkan tempat itu bagimu. Kelak Aku akan kembali. Karena di mana Aku berada, kamu pun harus berada.”
Sementara itu, Boneka Garam yang adalah simbolisasi dari eksistensi kita manusia tengah sibuk mencari jati dirinya di bumi kerontang ini. Akhirnya ia terus mempertanyakan, bahwa sejatinya, siapakah dirinya ini?
Dalam ziarahnya, ia mencari dan terus-menerus bertanya, ‘bagaimanakah nasib paling akhir dari totalitas penziarahannya ini?’ Hingga detik ini, ia masih terus dan sibuk mencarinya.
Kemudian, dari jarak kejauhan dilihatnya, bahwa ada bentangan samudra biru yang sedang bergairah bergelora dengan gelegar gemuruhnya memecah alam nan sunyi. Maka, ia tertarik untuk mendekatinya.
Detibanya di sana, ia terperanjat sambil menatap berapa luasnya bentangan samudra biru itu. Ia pun angkat bicara.
“Hai, siapakah engkau?”
“Aku adalah laut. Ayo, segera kau terjunkan dirimu ke sini,” sahut Laut.
Maka, seketika itu juga, si Boneka Garam itu pun menceburkan dirinya ke dalam Laut.
Alangkah terperanjatnya ia, setelah sadar, bahwa kini dirinya kian mencair dan menyatu dengan samudra biru itu. Di saat sebelum butiran paling akhir dari dirinya mencair; maka diangkatnya wajahnya, sambil menatap angkasa ia berucap, “Tuhan, kini aku sungguh sadar, bahwa betapa bahagianya aku. Karena hari ini, aku boleh menyatu kembali dengan Sang Sumber Asalku.”
Demikian akhirnya lenyaplah sesosok makhluk hidup yang bernama, si ‘Boneka Garam’.
Kini ia merasa bahagia, karena kembali menemukan tempat kediamannya yang sesungguhnya. Itulah kediaman kekal baginya.
Refleksi
- Kerinduan sejati manusia, hanya akan terpenuhi di dalam Allah.
- Boneka Garam itu adalah simbolisasi dari kerapuhan dan kesementaraan kemanusiaan kita.
- Rumah sejati kita ialah di saat kita dapat berhimpun di sekeliling meja perjamuan Tuhan.
Allah adalah Sumber Sang Kasih nan Abadi
(Deus Caritas est)
Pada-Mu, aku bersyukur ya, Tuhan!
Kediri, 17 November 2O25

