“Ketika Tuhan sungguh jadi yang pertama, ketakutan hilang kuasanya dan perutusan menemukan keberanian.”
Setelah ditolak di kampungnya sendiri, Nazaret, Yesus tidak mundur dan tidak tenggelam dalam kekecewaan. Ia terus berjalan dari desa ke desa untuk mewartakan Kerajaan Allah dengan kesetiaan nan teguh.
Yesus memanggil kedua belas Rasul, dan mengutus mereka berdua-dua. Orang-orang biasa, tapi Engkau mempercayakan kepada mereka kuasa atas roh-roh jahat.
Mereka pergi, dan kejahatan tidak berdaya. Setan diusir, orang sakit disembuhkan, dan setiap hati diajak untuk bertobat.
Engkau memerintahkan mereka untuk tidak membawa apa-apa: tidak membawa bekal, roti, atau pun uang. Hanya tongkat, sandal, dan kepercayaan penuh kepada-Mu.
Bapa, ajarlah kami kepercayaan seperti itu: kepercayaan yang menempatkan Engkau di atas segala rasa aman palsu kami.
Yesus tidak menutup mata terhadap kenyataan kejahatan, tapi Ia tidak menjadikannya pusat perhatian. Fokus para murid bukanlah kegelapan, melainkan kuasa-Mu. Iman kepada-Mu lebih kuat daripada segala ketakutan.
Yesus juga mengajarkan agar para Rasul tinggal di satu rumah, bila mereka diterima. Bukan mencari kenyamanan dan mengejar keuntungan. Para murid juga bukan sedang disuruh piknik. Perutusan itu bukan soal kenyang atau nyaman, melainkan ketaatan.
Perutusan ini mengingatkan kami
akan perjalanan bangsa Israel ke luar dari Mesir. Dua belas suku yang berjalan hanya dengan pakaian, sandal, dan tongkat. Kini, dua belas Rasul memimpin Keluaran versi yang baru. Bukan menuju suatu tanah duniawi, melainkan menuju Kerajaan-Mu.
Bapa, kami pun diikutsertakan dalam perutusan itu. Penolakan itu akan datang. Bahkan Yesus sendiri mengalaminya. Maka Engkau mengajarkan kami untuk mengebaskan debu dari kaki. Bukan karena marah, melainkan agar kami tetap bebas. Kami tidak memikul penolakan sebagai beban, dan tidak membiarkannya menghentikan langkah kami.
Mungkin saja, belum waktunya bagi mereka.
Pulihkanlah kami, ya, Bapa. Kembalikan kami pada sukacita dan kebebasan sebagai murid-Mu. Utuslah kami kembali dengan iman yang sederhana, hati yang menempatkan Engkau di nomor satu, dan dengan keberanian untuk mengalahkan setiap kejahatan oleh kuasa kerahiman-Mu.
Demi Kristus, Tuhan kami.
Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

