Dengan daun Palma di tanganku, kusambut Yesus sejak dari Pintu Gerbang Yerusalem. Kita ikut berteriak… Hosana! Hosana!
Setelah itu kuikuti Dia sampai masuk ke dalam Gereja, mengapa suasana kemudian jadi berbeda. Mulai dibacakan Hamba Yahwe yang menderita. Mulai kudengarkan, Dia yang merendahkan diri, dan kemudian kudengarkan Kisah Sengsara-Nya. Imanku benar-benar diuji.
Tapi kesaksian kepala serdadu itu menguatkanku, dia mengatakan, “Truly this man was the Son of God.”
Oh Yesus, mataku Engkau buka. Pikiranku Engkau buka. Hatiku Engkau buka. Akhirnya, Engkau hadir nyata dalam Tubuh dan Darah-Mu yang kami sambut dalam Perayaan Ekaristi yang kami rayakan hari ini.
Seluruh peristiwa yang terjadi di “Puncak Kalvari” hadir di sini. Yang kami lihat “It was nine o’clock in the morning when they crucified Him.” Dari “Puncak Kalvari” itu, juga kami dengar suara yang begitu nyaring, “Eloi, Eloi, lema sabachthani – My God, my God, why have you forsaken me?” Lalu dengan kalimat ini, Engkau telah menyempurnakan penebusan untuk kami, orang-orang berdosa ini,” Jesus gave a loud cry and breathed His last.” Terima kasih Yesus – Thank You Jesus. TGIF – Thanks God I am Forgiven.
Tetap, salib ini kami bawa dalam kehidupan sehari-hari ini, karena ini adalah tanda kemenangan, penebusan, dan tanda keselamatan yang kami terima, miliki, serta yang kami imani. Kami terus mengikuti-Mu yang telah menunjukkan kasih yang luar biasa, yaitu memberikan hidupmu untuk kami. Itulah “Great Love.” Cinta seperti ini yang belum kami punyai. Kami harus belajar dan belajar lagi untuk memiliki cinta yang seperti itu: cinta-Mu.
Rm. Petrus Santoso SCJ

