Pada Minggu misi ini, kita berdoa untuk para misionaris. Mereka telah memberikan dirinya untuk mewartakan Injil dengan tantangan dan konsekuensinya.
Berdirinya Gereja juga tidak lepas dari peran para misionaris itu. Cerita dan kisah mereka diingat dan dikenang dengan baik. Bahkan dari antara yg mendengar itu, ada yang mengikuti jejak para misionaris itu, salah satunya adalah saya yang menyediakan diri untuk jadi seorang misionaris di tanah misi (Hongkong dan Macau).
Dilihat lebih dalam dari yang terjadi dan direfleksikan oleh Gereja, kita semua ‘by nature’ adalah seorang misionaris. Disadari atau tidak, saat ini kita ada di ‘tanah misi’ masing-masing. Peran yang diambil itu berbeda satu dengan yang lainnya, tapi yang dibawa adalah Kristus dan harus dipertanggung-jawabukan, karena sebagai murid-murid-Nya. Jika tidak, ‘garam kita telah menjadi tawar’ dan ‘terang kita telah redup.’ Sikap ini harus dipertahankan agar “garam itu tetap asin” dan “terang itu terus bernyala terang.”
Hari Minggu Misi ini, Paus Leo XIV menulis surat dengan judul, “Misionaris Pengharapan di antara Suku Bangsa.” Pesan beliau sangat indah dan menggetarkan hati.
Komitmen pertama, dalam bulan misi Oktober ini, adalah doa bagi kita dan komunitas kita. Bapa Suci mendorong kita untuk menafasi hidup doa yang jadi “kekuatan pertama dalam pengharapan.”
Tuhan Yesus mengutus kita. Apakah saat ini kita merasakan tugas perutusan itu di tanah misi?
Pertanyaan lain, apa sumbangan konkrit kita untuk para misionaris? Pikirkan dan bertanyalah kepada para misionaris yang kita kenal.
Tuhan memberkati.
Rm. Petrus Santoso SCJ

