Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Apa kriteria sejati, sehingga seorang murid dinyatakan sebagai juara kelas?”
(Didaktika Hidup Sejati)
…
“Non multa sed multum.” Bukan jumlahnya, tetapi isi / mutu / kualitasnya.
Peringkat Penyesat
Sekolah dan orangtua konyol sering bermusliat ingin meraih peringkat lewat kesepakatan jahat.
Kepsek dan pengawas pun ketat bersiasat agar sekolah asuhannya berperingkat
Guru dan orangtua rela bermain mata untuk berani menjiplak angka
Sang murid pun kian tekun menghafal himpunan soal pilihan ganda
Akhirnyamereka pun ramai-ramai meniarap debu
non scholae discimus, sed vitae!
(Pada Sepotong Catatan)
Pihak sekolah telah bersalah kaprah. Dinas Pendidikan pun telah mendahului bersalah kaprah. Serta Departemen Pendidikan Nasional yang memang telah salah mengasuh serta tak berarah!
Selama ini, kita, ternyata telah menyelimuti raga fana dan jiwa latah ini dengan seutas selimut kepalsuan semata.
Kita seolah-olah sudah nyaman berenang di dalam genangan lumpur kesalahpahaman. Kita telah turut merengkuh raih impian dan cita-cita fana. Ternyata, kita telah mengalungkan seutas rantai kepalsuan dengan predikat kebanggaan hampa.
Apa yang dapat kita banggakan dari hasil pendidikan kita? Kita, sering berbangga atas kejuaraan anak-anak di sekolah-sekokah kita.
Peringkat kejuaraan itu dipatok atas dasar apa? Karena bukankah kecerdasan intelektual (IQ) bukanlah mukjizat.
Pernahkah kita turut berbangga, karena putra-putri kita mampu meraih peringkat “kejuaraan dalam aspek-aspek: kedisplinan, kejujuran, ketulusan, kesetiaan, kerja keras, kerja sama, kemandirian, serta kepemimpinan?”
Bukankah di lembaga pendidikan kita semua aspek pembentuk sikap dan perilaku yang mengarah pada pembentukan karakter itu, justru bukanlah sebagai aspek terpenting serta utama.
Adalah sebuah fakta, bahwa pihak sekolah tidak pernah peduli dan menilainya. Karena yang dinilai hanyalah aspek kecerdasan nalar serta intelektual semata (IQ).
Tanpa bermaksud untuk mengada-ada serta mendiskreditkan lembaga pendidikan kita, tapi nyata, bahwa aspek nalar dan otak itu yang penting serta diutamakan.
Riil pula, bahwa lembaga pendidikan kita ternyata tidak bertujuan membentuk karakter anak bangsa, namun justru berlomba untuk menajamkan isi kepala sang anak semata.
Apakah hasilnya, lihatlah pada โout putโ lembaga pendidikan kita. Seringkali, kita turut membusungkan dada, karena merasa mampu menyematkan aneka predikat dan gelar kesarjanaan pada bahu hampa generasi muda kita.
Namun, sejatinya kita hanya menghasilkan pribadi-pribadi yang meluber isi kepalanya, namun miskin kreasi dan daya ciptanya.
Jadi, โout putโ lembaga pendidikan kita ini hendak ke mana?
Ya, ternyata itulah “jenis pendidikan yang hanya mampu menghasilkan derai air mata,” (Paulo Freire).
Berdasarkan kalkulasi dan riset keilmiahan, ternyata hanya dua puluh persen kecerdasan IQ berkontribusi untuk kesuksesan hidup seseorang.
Delapan puluh persen untuk kecerdasan emosi (EQ), serta seratus persen untuk kecerdasan spiritual (SQ).
…
Kediri, 17 Mei 2024

