Red-Joss.com – Pernahkah kita bermimpi bertemu jodoh?
Bagi kawula muda, mimpi bertemu doi itu hal biasa. Bahkan bagi yang jomblo ingin bertemu dengan Puteri atau Pangeran impian seperti cerita HC Andersen itu juga tidak aneh. Tapi bagi orangtua?
Nah, hal itu terjadi dan saya alami belum lama ini.
Ceritanya, Kamis Minggu lalu, saya di WA sahabat yang sudah 5-6 tahun tidak bertemu.
“Mas, saya mau mampir. Saya ke rumah atau ke toko?”
Floren, sahabat yang saya kenal 42 tahun lalu. Saya menulis cerpen di kumpulan cerpen Melati, sedang Floren sebagai ilustratornya. Lalu, kami pernah bekerja di tempat yang sama di Mingguan Hidup, majalah Katolik, ketika itu kantor redaksinya di jalan Katedral.
Semangat Optimistis
Pagi itu, sepulang mengajar di SMP Sang Timur, Ciledug, Floren mampir ke toko.
“Wuih, mobilnya baru,” komentar saya, ketika ia turun dari mobil.
“Wuih, tokonya juga baru,” seloroh Floren tidak mau kalah. Kami lalu bergelak.
Ya, begitulah Floren. Murah tawa. Jadi, tidak heran, jika wajahnya senantiasa sumringah. Bahkan, 6 tahun tidak jumpa wajahnya tidak banyak berubah, bahkan makin segar.
“Saya anti stress, Mas,” kata Floren santai, menanggapi wajahnya yang selalu segar sumringah. Alasannya, hidup itu harus dibawa hepi. Hidup pun tanpa beban.
Tidak hanya itu, bagi Floren hidup ini harus dijalani dengan optimistis. Seberat dan sesulit apa pun persoalan hidup, jika disederhanakan dan dihadapi dengan semangat optimistis, hasilnya pasti baik dan penuh sukacita.
Ketemu Jodoh
Sebagai pelukis, kesibukan Floren yang lain adalah mengajar melukis di beberapa sekolah, di antaranya SMP Sang Timur, Ciledug dan sekolah Kristen Calvin di Kemayoran.
“Ternyata, saya mempunyai bakat mengajar,” jelas Floren yabg telah menekuni mengajar melukis lebih dari puluhan tahun.
Bagi Floren mengajar melukis itu juga memberi kepuasan tersendiri. Ia dapat menyalurkan hobi, berbagi ilmu, dan memotivasi mereka untuk tidak ragu, bahwa melukis dapat dijadikan sebagai profesi.

“Saya mempunyai sebuah lukisan untuk Mas. Saya semalam bertemu Mas dalam mimpi, makanya saya ke sini,” jelas Floren sambil membuka hp.
“Oh ya? Jadi ada Puteri Impian untuk saya…,” selorohku. Floren tersenyum, mengiyakan.
“Mas pasti suka,” kata Floren optimistis. Ia lalu menunjukkan chat di WA itu. Meski menolak, tapi hati saya berdesir melihat lukisan itu. Seorang bayi mungil di pangkuan Bunda Maria dengan bidadari yang tengah bermain musik. Suasana yang teramat indah, penuh cinta, dan kasih sayang.
“Boleh,” kata saya bergetar. Saya teringat lukisan Floren beberapa tahun silam, yang saya pasang di ruang keluarga. Yesus bangkit dari mati. Memotivasi saya untuk selalu bangkit kembali, ketika saya jatuh, baik dalam hidup maupun dosa…
Kini, Floren membawa hadiah terindah dalam hidup saya. Suasana Natal di Betlehem untuk saya bawa dalam hidup keluarga saya… hidup yang dilimpahi kasih sayang.
…
Mas Redjo


Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.