“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu” (Yoh 10: 7).
Disadari atau tidak disadari, inilah pintu yang kita lewati setiap hari:
- Jika pintu terkunci, maka kita mengetuk/mengebel, menunggu beberapa saat dan jika ada yang di dalam, maka pintu itu akan dibuka, lalu kita dipersilahkan masuk.
- Jika pintu itu terbuka, kita tidak langsung nyelonong, tapi kita akan mengatakan: permisi. Kita menunggu ada yang memberikan jawaban, lalu kita disambut dan dipersilahkan masuk.
Bagaimana, jika kita mempunyai kunci sendiri? Jawabannya, setiap saat kita bisa masuk. Tidak perlu mengetuk/mengebel, menunggu, dan tidak perlu permisi. Karena itu rumah sendiri. Bagaimana rasanya? Tentu lebih enak dan cepat.
Sejatinya kita mempunyai kunci untuk melewati pintu itu. Apa jenis kunci yang kita miliki? Nama pribadi kita itu jadi ‘chip’ untuk akses masuk melewati pintu itu. Semuanya jadi dimudahkan.
Kata-kata Yesus yang mengatakan, bahwa “Akulah pintu gerbang bagi domba-domba-Ku” (Yoh 10: 7) hendak memberikan penegasan kepada kita, inilah pintu yang harus dilewati setiap hari. Hal ini juga memberikan penegasan kepada kita, bahwa pada saatnya kita akan berada di tempat itu, selamanya dan harus melewati pintu itu. Jika tidak, kita akan kesulitan, karena tidak tahu pintu mana yang harus dilewati.
Jadi pastikan, bahwa pintu yang kita lewati itu tepat. Dengan menyangkal diri dan mengecilkan ego, kita memasuki pintu yang sempit itu (Matius 7: 13).
…
Rm. Petrus Santoso SCJ

