“Seburuk apa pun perilaku anak itu tidak ada yang namanya mantan anak. Mereka tetap anak kita.” – Mas Redjo
…
| Red-Joss.com | Apa reaksi kita sebagai orangtua, ketika ada anak yang mengatakan, bahwa kita membeda-bedakan anak, alias pilih kasih?
Meski kaget, saya tidak segera merespon atau bereaksi, sebaliknya berefleksi diri. Benarkah yang dituduhkan oleh anakku?
Selama ini, saya berlaku adil dan tidak pilih kasih pada mereka.
Saya bercermin dari pengalaman sendiri. Saya bungsu dari empat bersaudara. Ketiga kakak saya kuliah, dan sarjana. Saya kurang beruntung. Karena ketiadaan biaya. Usaha orangtua pailit. Saya tidak protes, tapi sadar diri, mengerti, dan memahami keadaan orangtua.
Berpikir jernih dan sadar diri itu yang membuat saya bangun dari mimpi buruk. Saya harus berjuang untuk jadi tangguh dan mandiri.
Begitu pula dengan anak bungsu saya. Perbedaannya, dia tidak mau kuliah, meski kami sekeluarga telah mendorong, bahkan memaksanya. Alasannya ingin wirausaha sendiri.
Karena ingin mandiri, saya tanyai rencana dan masa depannya. Saya juga mengikutkannya kursus sesuai keinginannya untuk menambah ilmu dan membuka wawasan berpikirnya.
Tidak hanya itu, si Bontot juga saya gojlok (tempa) di perusahaan saya agar piawai memecahkan masalah, sekaligus mematangkan pribadinya.
Ternyata ia salah mengerti maksud dan tujuan saya menggemblengnya dengan bekerja keras itu dikiranya pilih kasih. Sedang kedua kakaknya tidak membantu usaha keluarga?
Saya tidak mau berkonflik, meski semua itu saya jelaskan panjang lebar. Saya diam, mengalah, dan sabar.
Pengalaman itu mengingatkan saya pada seorang sahabat, YN. Ketika anaknya ngotot menikahi gadis dari keluarga yang bermasalah. Kedua orangtuanya bercerai. Anak YN membantu keluarga itu dengan memberikan sebagian dari gajinya. Konyolnya untuk biaya pengobatan Ibunya dianggap berhutang.
“Saya menjauhi dan tidak mau berkonflik dengan anak, karena itu hanya meninggalkan luka pedih dan nyeri. Orangtua juga pantang mengungkit semua itu, karena kewajiban dan tanggung jawab kita dipercaya Tuhan,” ceritanya getir, tapi dijalani YN dengan tabah dan tawakal.
“Tugas kita sebagai orangtua itu mengingatkan, mengasihi, dan doa ikhlas. Kita tidak tahu rencana Tuhan atas hidupnya, tapi percaya, pasti Tuhan memberi yang terbaik.”
Hikmat dari cerita YN itu makin meneguhkan jiwa saya agar makin sabar, tabah, dan ikhlas.
Membesarkan anak itu berat, tapi kita harus bertanggung jawab pada Tuhan yang anugerahi hidup ini. Kita dipercaya Tuhan untuk tidak mengecewakan-Nya. Kita diuji dan dibentuk-Nya untuk setia (1 Korintus 10: 13)
Saya memejamkan mata, mohon kekuatan iman kepada-Nya.
…
Mas Redjo

