Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Musuh utama untuk
berpikir sendiri adalah ideologi-ideologi totaliter
baik sekuler maupun
religius yang
mengajarkan ketaatan
mutlak tanpa pertimbangan
akal budi.”
(Pius Pandor, CP)
Sapere Aude
“Sapere Aude” yang bermakna berani untuk berpikir sendiri adalah semboyan dari Horatius, filsuf Romawi kuno. Lewat adagium ini, beliau mau mengajar para pembaca tulisannya agar mereka berani untuk bersikap dan tidak mudah untuk tunduk serta takut kepada para pemegang kekuasaan. Kepada para pembacanya itu diajak untuk berani berpikir sendiri alias merdeka berpikir.
Kemudian adagium ini dikutip oleh filsuf Emmanuel Kant yang dijadikannya sebagai semboyan di zaman pencerahan alias ‘aufklarung’ yang sedang gencar dipropagandakan di Eropa pada abad ke-18 yang berintikan kebangkitan akal budi.
Bagi filsuf Emmanuel Kant (1724-1804), kini manusia perlu disadarkan untuk menyadari, bahwa selama ini, manusia dikekang lewat prasangka-prasangka dan tuntutan dogma-dogma semata. Dampaknya, bahwa manusia hidup dalam tekanan dan ketakutan untuk berani berpikir sendiri.
Tragedi Auschwitz, Jerman
Selaku Penulis buku Ex Latina Claritas, Pius Pandor, CP pun menyodorkan sebuah contoh, bahwa tragedi Auschwitz di Jerman tahun 1944 yang telah mengorbankan sekitar 1,5 juta warga Yahudi Eropa lewat kamp konsentrasi Nazi (Hitler), Jerman adalah sebuah fakta riil sebagai dampak mengerikan dari manusia-manusia penindas yang tidak sanggup untuk berpikir sendiri, namun hanya mematuhi perintah rezim selaku atasannya di kala itu.
“Bagi kita, Peristiwa Auschwitz kiranya jadi sarana pembelajar untuk mengasah kemampuan berpikir sendiri demi cinta akan kehidupan (amor vitae) dan cinta akan dunia (amor mundi). Tugas kita bersama adalah merawat dunia dengan melakukan hal-hal yang baik, benar, dan mulia” demikian Pius Pandor.
Selanjutnya, beliau memberikan penekanan, bahwa musuh utama di zaman kita ini ialah pendewaan pada ideologi-ideologi totaliter, baik sekuler pun religius yang mendorong manusia, agar selalu bersikap taat dan patuh secara mutlak. Hal ini pun akan berdampak melahirkan kelompok manusia yang sudah terindoktrinasi untuk hanya patuh dan taat pada instruksi rezim lalim. Maka, dengan sendirinya akan terbunuh sikap inisiatif dan kreatif dari warga masyarakat.
Bagaimana Kondisi Riil Hidup Kita Kini
Menilik pada aspek realitas kita kini, bahwa masyarakat kita cenderung untuk hidup sekadar mengikuti arus besar/umum alias tidak berani untuk berpikir sendiri. Dampak riilnya, bahwa masyarakat kita hidup di bawah tekanan dan hanya bersikap membungkam.
Maka, tindakan yang perlu segera dibangkitkan ialah aksi untuk menumbuhkan cinta akan budaya sendiri lewat aksi kebebasan dalam berpikir.
“Cogito Ergo Sum”
“Aku berpikir, maka aku ada”
(Renatus Descartes)
Kediri, 30 April 2025

